KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Pelaku usaha dituntut semakin adaptif, memperkaya produk, membaca perubahan selera konsumen, sekaligus berani mencari pasar baru. Ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) BPD Kaltim Ida Syachruni mengatakan, kondisi ekonomi saat ini menjadi momentum bagi pelaku UMKM untuk mengevaluasi kembali cara mereka menjalankan bisnis.
Menurut pemilik brand Batik Tenun Vi tersebut, tantangan yang dihadapi UMKM bukan hanya persoalan daya beli masyarakat, tetapi juga bagaimana pelaku usaha mampu menawarkan produk yang memiliki nilai tambah sehingga konsumen memiliki alasan untuk tetap membeli.
“Pelaku UMKM sekarang harus lebih kreatif dan inovatif. Jangan hanya berpikir bagaimana produk kita laku, tetapi juga bagaimana produk itu bisa terus berkembang dan memiliki nilai tambah,” ucap Ida.
Baca Juga: Pernah Dianggap Gila, Agus Bei Buktikan dengan Raih Kalpataru Dua Kali
Ia menilai perubahan perilaku konsumen membuat persaingan semakin terbuka. Konsumen kini memiliki banyak pilihan, baik produk lokal maupun produk dari luar daerah yang dapat diperoleh melalui platform digital.
Kondisi tersebut membuat pelaku UMKM fashion perlu memahami bahwa produk yang bagus saja belum tentu cukup. Kemampuan membangun identitas produk, menciptakan desain yang relevan, serta menghadirkan variasi sesuai kebutuhan pasar menjadi bagian penting dalam mempertahankan usaha.
Ida berujar pengembangan produk dapat dilakukan tanpa harus meninggalkan karakter lokal. Kain tradisional, batik dan tenun Kaltim justru memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk yang lebih dekat dengan kebutuhan konsumen masa kini.
Menurutnya, kekayaan motif dan bahan lokal tidak harus berhenti sebagai kain atau pakaian tradisional. Produk dapat dikembangkan menjadi busana modern, aksesori, tas, hingga berbagai produk turunan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. “Jangan sampai kita hanya menjual kainnya. Kita harus berpikir bagaimana kain dan tenun itu bisa dikembangkan menjadi berbagai produk yang lebih luas,” katanya.
Baca Juga: Kisah Agus Bei di Mangrove Graha Indah Balikpapan, Kritik Aksi Tanam Pohon yang Cuma Seremoni
Diversifikasi tersebut menjadi penting karena pasar fashion memiliki karakter yang sangat dinamis. Selera konsumen berubah cepat, tren berganti, dan konsumen tidak selalu mencari produk yang sama.
Karena itu, pelaku UMKM harus berani bereksperimen dengan desain, ukuran, warna, model, hingga kemasan produk. Semakin beragam pilihan yang tersedia, semakin besar peluang sebuah brand menjangkau segmen konsumen yang berbeda.
Ida juga mendorong pelaku usaha untuk tidak terjebak pada persaingan harga. Ketika UMKM hanya mengandalkan harga murah, ruang untuk mengembangkan kualitas dan keberlanjutan bisnis menjadi semakin terbatas. Sebaliknya, produk yang memiliki cerita, desain, kualitas, dan identitas yang kuat dapat memiliki nilai jual lebih tinggi.
Dalam konteks Batik dan Tenun Kaltim, cerita mengenai budaya dan identitas daerah menjadi salah satu modal yang dapat dikembangkan sebagai kekuatan branding. “Yang kita jual bukan hanya barangnya, tetapi juga cerita, identitas dan kekayaan budaya yang ada di balik produk itu,” ujar Ida.
Ia menilai pendekatan tersebut dapat menjadi pembeda ketika produk lokal masuk ke pasar yang lebih luas. Selain inovasi produk, kesiapan digital juga menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Pelaku UMKM harus mampu memanfaatkan media sosial, marketplace, maupun berbagai kanal digital lainnya untuk memperkenalkan produk dan berinteraksi dengan calon konsumen.
Digitalisasi membuka kesempatan bagi UMKM untuk tidak hanya bergantung pada konsumen yang datang ke toko atau pameran. Produk dari Kaltim dapat diperkenalkan kepada konsumen di berbagai daerah tanpa harus membuka toko fisik di setiap kota.
Baca Juga: Mengenal Inovasi Buispot Agus Bei, Cara Jitu Bikin Mangrove Tahan Hantaman Gelombang Pesisir
Hal tersebut semakin relevan dengan perkembangan transaksi digital nasional. Bank Indonesia mencatat transaksi pembayaran digital dan QRIS terus tumbuh sepanjang 2026, menunjukkan semakin besarnya ruang ekonomi digital yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha.
Namun, menurut Ida, masuk ke platform digital juga membutuhkan kesiapan. UMKM tidak cukup hanya mengunggah foto produk. Mereka perlu memahami cara membuat konten, memotret produk dengan baik, menentukan target pasar, menjaga pelayanan, hingga memastikan ketersediaan barang.
Dengan demikian, digitalisasi tidak sekadar menjadi sarana berjualan, tetapi bagian dari strategi bisnis. Ida berharap pelaku UMKM fashion di Kaltim tidak melihat kondisi ekonomi hanya sebagai tekanan. Situasi tersebut seharusnya menjadi dorongan untuk memperkuat fondasi usaha.
Baca Juga: Khawatir Mangrove Balikpapan Tinggal Cerita, Agus Bei Ingatkan Ancaman Bencana Pesisir
“Kalau kondisi pasar berubah, kita juga harus berubah. Jangan menunggu pasar kembali seperti dulu, tetapi kita yang harus mencari bentuk pasar yang baru,” tuturnya.
Menurutnya, UMKM yang mampu bertahan adalah mereka yang mau belajar, melakukan evaluasi, memperkaya produk, dan membuka diri terhadap perubahan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo