KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Perubahan pola konsumsi masyarakat menghadirkan pesan penting bagi pelaku UMKM, pasar tidak lagi harus dicari hanya di toko, pusat perbelanjaan atau pameran. Perkembangan platform digital membuka ruang bagi produk lokal untuk menjangkau konsumen di luar wilayah Kalimantan Timur.
Ida Syachruni, yakni Ketua APPMI BPD Kaltim mendorong pelaku UMKM agar semakin serius memanfaatkan platform digital sebagai bagian dari strategi memperluas pasar.
“Sekarang jangan hanya menunggu orang datang membeli. Kita harus jemput bola, salah satunya melalui platform digital,” kata pemilik brand Batik Tenun Vi tersebut.
Menurutnya, kondisi ekonomi yang membuat konsumen lebih berhati-hati berbelanja juga menuntut pelaku usaha lebih agresif mencari konsumen baru. Pasar lokal tetap penting, tetapi UMKM tidak seharusnya hanya bergantung pada pembeli di kota sendiri.
Baca Juga: Jangan Cuma Jual Kain, Trik Desainer Kaltim Bikin Produk Lokal Dilirik Pasar Luas
Perkembangan marketplace dan media sosial memungkinkan sebuah brand memperkenalkan produknya ke konsumen di luar daerah. Bahkan, produk berbasis kain tradisional Kaltim memiliki peluang untuk menjangkau pasar nasional apabila dikemas dengan pendekatan yang tepat.
Ida menilai tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana membuat produk, tetapi bagaimana produk tersebut ditemukan oleh konsumen. “Kalau produk kita bagus tapi orang tidak tahu, ya tetap sulit. Karena itu branding dan pemasaran menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari produk,” ujarnya.
Pelaku UMKM fashion juga perlu memahami karakter masing-masing platform. Media sosial dapat digunakan untuk membangun cerita dan interaksi dengan konsumen, sedangkan marketplace dapat dimanfaatkan untuk mempermudah transaksi.
Konten pun harus dibuat lebih menarik. Foto produk, video pendek, proses pembuatan, cerita di balik motif, hingga cara memadupadankan busana dapat menjadi materi promosi.
Baca Juga: Pernah Dianggap Gila, Agus Bei Buktikan dengan Raih Kalpataru Dua Kali
Bagi produk batik dan tenun, pendekatan storytelling menjadi sangat penting. Konsumen tidak hanya membeli pakaian, tetapi juga dapat diajak memahami asal-usul motif, proses produksi, filosofi, dan identitas daerah yang melekat pada produk tersebut.
Ida mengatakan pendekatan tersebut dapat membuat produk lokal memiliki pembeda dibandingkan produk fashion massal. “Produk lokal itu punya cerita. Itu yang harus kita angkat, bukan hanya sekadar foto barang dan harga,” tuturnya.
Ia juga mendorong pelaku UMKM untuk tidak takut mengembangkan produk turunan. Kain tradisional dapat dikembangkan menjadi produk fashion yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan generasi muda.
Dengan diversifikasi, UMKM memiliki lebih banyak pintu untuk memasuki pasar. Misalnya, konsumen yang belum siap membeli busana dengan harga tinggi tetap dapat menjadi pasar untuk produk aksesori, tas, scarf, atau produk fesyen lain dengan harga yang lebih terjangkau.
Strategi tersebut membuat produk memiliki jenjang harga sekaligus memperluas kelompok konsumen. Bagi Ida, perubahan tersebut harus diterjemahkan menjadi peluang penjualan. Ida menilai digitalisasi juga dapat membantu UMKM menguji pasar sebelum melakukan ekspansi fisik.
Baca Juga: Kisah Agus Bei di Mangrove Graha Indah Balikpapan, Kritik Aksi Tanam Pohon yang Cuma Seremoni
Pelaku usaha dapat melihat produk mana yang paling banyak diminati, wilayah mana yang memberikan respons positif, hingga rentang harga yang paling sesuai dengan target konsumen. Dengan data tersebut, keputusan bisnis dapat dibuat lebih terukur. “Platform digital itu bukan hanya tempat jualan. Kita bisa membaca pasar dari sana,” ujarnya.
Karena itu, Ida mengingatkan agar pelaku UMKM tidak sekadar ikut tren digital. Mereka harus benar-benar membangun strategi. Mulai dari menentukan target konsumen, membuat konten secara konsisten, menjaga kualitas pelayanan, memperhatikan ulasan pelanggan, hingga memastikan pengiriman berjalan baik.
Jika dilakukan secara konsisten, platform digital dapat menjadi jembatan bagi UMKM Kaltim untuk keluar dari keterbatasan pasar lokal. Sebab, Ida berpesan, target akhirnya bukan hanya meningkatkan penjualan, tetapi membangun brand yang mampu dikenal di luar daerah.
Baca Juga: Mengenal Inovasi Buispot Agus Bei, Cara Jitu Bikin Mangrove Tahan Hantaman Gelombang Pesisir
Bagi Ida kondisi ekonomi yang penuh tantangan seharusnya tidak membuat pelaku UMKM berhenti bergerak. “Pasar itu ada, tetapi kita harus mau mencari dan mendekatinya,” pungkas Ida. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo