KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Setelah tujuh bulan penjualan relatif stabil, geliat pembelian di Ima Ce yang merupakan salah satu toko roti dan pastry di Samarinda mencatat penurunan penjualan sekitar 10 persen pada Agustus. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha mulai mengencangkan strategi, dari menekan produksi berlebih hingga menggelar promo untuk kembali menarik konsumen.
Co-owner Ima Ce, Erlisa Eva atau akrab disapa Lisa, mengatakan penurunan mulai terasa pada Agustus. Padahal, sejak membuka toko pada Januari hingga Juli 2026, penjualan masih berjalan baik. “Mulai bulan Agustus sudah mulai terasa,” kata Lisa.
Menurutnya, penurunan terjadi pada penjualan di toko maupun pesanan dari pelanggan bisnis atau business to business (B2B). Jika dihitung, koreksi penjualan berada di kisaran 10 persen. “Kalau dari penjualan mungkin sekitar 10 persen,” ujarnya.
Ima Ce sebelumnya lebih banyak mengandalkan sistem pre order (PO) dan penjualan daring. Model tersebut telah dijalankan hampir 15 tahun. Namun, sejak Januari tahun ini, penjualan mulai dipusatkan melalui outlet dengan tetap melayani pembelian secara daring. Lisa mengatakan minat masyarakat terhadap produk roti premium sebenarnya masih cukup baik.
Baca Juga: Bukan Tak Punya Uang, Warga Kaltim Kini Tahan Jajan dan Pilih Porsi Hemat
Namun, ketika penjualan mulai terkoreksi, efisiensi produksi menjadi salah satu langkah yang ditempuh. Lisa mengatakan pihaknya berupaya menekan potensi pemborosan produk atau waste dengan menyesuaikan jumlah produksi terhadap permintaan. “Jadi kita berusaha supaya produk itu tidak waste. Kita coba atur di kitchen supaya tidak berlebihan. Jadi habis satu hari,” katanya.
Produk yang tidak habis dalam satu hari dapat diretur. Kendati demikian, Lisa menyebut jumlah retur masih relatif kecil sehingga belum menjadi beban berarti bagi usaha. Selain mengatur produksi, Ima Ce mulai memperluas kanal penjualan. Pada Agustus, Lisa mencoba memanfaatkan layanan pesan-antar seperti GrabFood.
Langkah tersebut menjadi upaya baru setelah pola bisnis Ima Ce yang selama ini bertumpu pada sistem PO berubah menjadi penyediaan produk yang siap dibeli setiap hari. “Kalau sekarang saya manfaatin promo, promo di medsos, terus saya coba masuk ke Grab,” ujarnya.
Meski baru berjalan, penjualan melalui platform tersebut belum menunjukkan dampak signifikan. Namun, kanal baru itu diharapkan dapat menambah jangkauan konsumen. Strategi promosi juga diperkuat. Ima Ce membuat program Happy Hour setiap Sabtu dan Minggu pada pukul 16.00 hingga 19.00 Wita. Seluruh produk masuk dalam program dengan potongan harga sekitar 10–15 persen.
Baca Juga: Rahasia Sengkel Meleleh di Mulut, Chef Aston Samarinda Rela Masak Daging sampai 18 Jam
“Karena mulai menurun begini, kita bikin saja Happy Hour di weekend. Kita coba all item,” katanya. Menurut Lisa, promo tersebut cukup efektif menarik minat pelanggan. Terutama pelanggan lama yang sudah mengenal produk Ima Ce.
Selain promo, pemasaran melalui media sosial dan Instagram Ads terus dijalankan. Meski penjualan yang mulai melambat, Lisa mengatakan Ima Ce belum mengambil langkah pengurangan tenaga kerja. Bahkan, ketika toko dibuka pada Januari lalu, jumlah pekerja justru bertambah. “Enggak (mengurangi karyawan, Red). Kebetulan waktu kami buka store kami menambah,” tuturnya.
Sementara itu, Ima Ce juga memilih lebih fokus pada produk roti. Sebelumnya, usaha tersebut turut menerima pesanan tumpeng, nasi liwet, nasi kotak, hingga berbagai produk makanan lainnya.
Fokus tersebut dilakukan agar kapasitas produksi dan operasional lebih terkendali. Dengan penjualan yang mulai terkoreksi, efisiensi produksi, penguatan promosi, serta perluasan kanal penjualan menjadi strategi Ima Ce menjaga bisnis tetap berjalan.
Ima Ce mengandalkan produk artisan. Salah satu produk yang menjadi andalan ialah roti sourdough. Selain itu, roti gandum juga menjadi produk yang banyak disukai pelanggan. Produk juga dibuat tanpa bahan pengawet maupun tambahan perasa. Konsep tersebut menjadi pembeda Ima Ce di tengah banyaknya pilihan produk roti di Samarinda. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo