KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Ketika Sungai Mahakam menyusut, persoalan pangan di wilayah hulu Kalimantan Timur bukan lagi sebatas soal produksi. Jalur distribusi yang terganggu ikut mengerek harga beras hingga berkali-kali lipat dari harga eceran tertinggi.
Kondisi tersebut terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Mahakam Ulu, khususnya Long Pahangai dan Long Apar. Kemarau panjang membuat debit Sungai Mahakam turun sehingga distribusi bahan pangan menuju kawasan tersebut menjadi semakin sulit.
Akibatnya, harga beras medium di wilayah tersebut melonjak tajam. Padahal, harga eceran tertinggi (HET) beras medium berada di angka Rp14 ribu per kilogram.
“Long Apari, apalagi perbatasan, mereka mengalami kesulitan untuk pangan dikarenakan Sungai Mahakam surut sehingga akses untuk pangan masuk ke sana menjadi susah. Harga di sana bahkan sudah sampai di angka Rp35 ribu sampai Rp40 ribu per kilonya,” papar Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim Fahmi Himawan.
Baca Juga: Hadapi Kemarau Panjang, Cadangan Beras Kaltim 1.208 Ton Diproyeksi Aman hingga Akhir Tahun
Kenaikan harga itu menunjukkan besarnya biaya distribusi yang harus ditanggung ketika akses transportasi sungai terganggu. Persoalan geografis Mahakam Ulu menjadi semakin berat ketika kondisi alam tidak mendukung jalur logistik. Di Ujoh Bilang, ibu kota Mahakam Ulu, kenaikan harga juga sudah mencapai lebih dari 20 persen.
Pemerintah provinsi kemudian mengambil langkah dengan menyalurkan cadangan pangan pemerintah daerah untuk membantu menjaga pasokan. Langkah tersebut menjadi penting karena persoalan di Mahulu bukan semata-mata kekurangan stok, melainkan kesulitan membawa bahan pangan menuju lokasi konsumen.
Fahmi mengatakan kondisi darurat juga memberikan ruang bagi pemerintah untuk menggunakan anggaran biaya tak terduga (BTT). Anggaran tersebut dapat dimanfaatkan ketika suatu wilayah telah menetapkan status siaga atau kondisi darurat. “Dengan kondisi siaga darurat tersebut maka pemerintah bisa mengeluarkan yang namanya BTT, biaya tidak terduga,” ujarnya.
Baca Juga: APBD Perubahan Bontang Terpangkas Rp118 Miliar, Belanja Modal Kena Imbas Paling Besar
Penggunaan BTT salah satunya dapat diarahkan untuk membantu kebutuhan operasional distribusi pangan. Sebab, ongkos pengiriman beras dari Samarinda menuju Ujoh Bilang, kemudian ke Long Pahangai dan Long Apar, tidak murah.
Persoalan tersebut memperlihatkan bahwa ketahanan pangan di Kaltim memiliki dimensi geografis yang kuat. Stok pangan yang tersedia di pusat pemerintahan belum otomatis menjamin harga tetap terjangkau di wilayah terpencil apabila jalur distribusinya terganggu.
Kondisi Mahakam Ulu juga menjadi gambaran bagaimana cuaca ekstrem dapat memberikan dampak berantai. Bermula dari kemarau dan surutnya sungai, kemudian berlanjut pada hambatan logistik, berkurangnya pasokan, hingga lonjakan harga di tingkat masyarakat. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo