SAMARINDA – Ketergantungan Kalimantan Timur terhadap pasokan beras dari luar daerah mulai berkurang. Dalam kurun sekitar satu setengah tahun, produksi beras lokal disebut meningkat signifikan, dari sebelumnya hanya mampu memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan menjadi 58 persen.
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji mengatakan, peningkatan tersebut menjadi modal penting untuk mengejar target swasembada beras pada akhir 2026.
“Kita ketahui bahwa 28.000 hektare sawah aktif sudah tertanam. Dan kurang lebih sampai per Agustus ini kita sudah panen kurang lebih 218.000 gabah kering. Ini sudah meningkat banyak,” ujarnya saat menghadiri Panen Demplot Padi LEISA dan Digital Farming di Gapoktan Mandiri Anggana, Kamis (10/9).
Menurut Seno, peningkatan produksi dilakukan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Selain mengoptimalkan lahan yang tersedia, pemerintah juga menjalankan program cetak sawah untuk menambah luas areal produksi.
Baca Juga: Sungai Mahakam Surut, Harga Beras di Mahulu Tembus Rp40 Ribu per Kilogram
Sejak awal pemerintahan, kata dia, kemampuan produksi beras Kaltim terus digenjot. Jika sebelumnya produksi lokal hanya memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan, kini kontribusinya telah mencapai 58 persen.
“Dari sejak awal kami memerintah 1,5 tahun yang lalu kita hanya 30 persen memenuhi kebutuhan Kaltim. Dan sekarang syukur alhamdulillah kita sudah meningkat menjadi 58 persen,” katanya.
Seno optimistis target swasembada dapat dicapai pada penghujung 2026. Optimisme itu turut ditopang rencana penambahan lahan melalui program cetak sawah.
Pada 2027, sekitar 12.000 hektare sawah baru ditargetkan bertambah. Dengan tambahan tersebut, luas sawah aktif Kaltim diproyeksikan mencapai sekitar 40.000 hektare.
Potensi produksi pun dinilai cukup besar jika produktivitas lahan dapat ditingkatkan. Dengan asumsi produktivitas tujuh ton per hektare dan dua kali panen dalam setahun, produksi dari 40.000 hektare sawah bisa menembus lebih dari 600.000 ton.
“Bayangkan apabila semuanya 7 ton per hektare, panennya, dan semuanya adalah P2 atau P3. Kalikan saja dua kali panen per tahun, sudah 14 ton per hektare. Kalikan 40.000, maka sudah lebih dari 600.000 ton,” jelasnya.
Karena itu, Seno meminta keberhasilan demplot pertanian tidak berhenti sebagai proyek percontohan. Teknologi dan metode budidaya yang terbukti meningkatkan produktivitas harus diterapkan lebih luas.
“Kita lakukan replikasi. Kita lakukan secara massal,” tegasnya.
Seno juga menekankan pentingnya modernisasi pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Berbagai alat pertanian seperti drone, rice milling unit, alat panen, jonder, traktor dan combine diharapkan membuat pekerjaan petani semakin efisien.
Editor : Muhammad Ridhuan