KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Harga telur yang terlalu rendah tidak selalu menjadi kabar baik bagi konsumen. Di tingkat peternak, harga yang jatuh dapat memicu keputusan menjual ayam produktif. Kondisi tersebut berpotensi menciptakan siklus baru ketika pasokan telur kembali berkurang.
Direktur Utama Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Varia Niaga Samarinda Syamsuddin Hamade menjelaskan, bisnis ayam petelur memiliki siklus produksi yang tidak bisa dipulihkan secara cepat. Ia mencontohkan kondisi yang terjadi setelah pandemi Covid-19. Ketika harga telur turun, sejumlah peternak memilih mengurangi populasi ayam.
Keputusan tersebut kemudian berdampak pada periode berikutnya. Ketika populasi ayam petelur berkurang, pasokan telur ikut menurun. “Setelah itu pasti siklusnya adalah paceklik. Siklusnya telur jadi langka setelah itu,” bebernya.
Berbeda dengan ayam pedaging yang relatif lebih cepat diproduksi, ayam petelur membutuhkan waktu untuk mencapai masa produksi. “Petelur itu kan tidak butuh waktu cepat untuk langsung bertelur, tidak seperti ayam pedaging (siklusnya). Jadi dia butuh waktu empat sampai lima bulan untuk bisa bertelur,” jelasnya.
Baca Juga: Solusi Macet Balikpapan Baru: Dua U-Turn Ditambah, Jalur Kantor Pos Bakal Ditutup
Ketika permintaan meningkat sementara ayam belum memasuki masa produksi, pasokan menjadi lebih sedikit dibanding kebutuhan. Kondisi tersebut kemudian dapat mendorong kenaikan harga. Sebaliknya, ketika banyak ayam mulai memasuki masa produksi secara bersamaan, pasokan bisa berlebih.
“Nah, ketika nanti produksi, ketika peternak itu posisi ayam peternakannya sudah bisa bertelur, tiba-tiba oversupply. Nah, ketika oversupply turun tuh harga,” katanya. Masalah kembali muncul ketika harga terlalu rendah dan peternak mengalami kerugian.
“Ketika peternak rugi mereka jual tuh ayamnya. Padahal masih masa produktif mereka jual. Jadi muter begitu siklusnya,” ujar Syamsuddin. Untuk memutus siklus tersebut, Varia Niaga mendorong kerja sama dengan peternak lokal melalui pola off-taker. Perusahaan berharap peternak tetap memiliki pasar ketika harga telur berfluktuasi.
“Makanya kami menginspirasi peternak lokal untuk membuat kandang kami yang off-taker,” katanya. Dengan pola tersebut, Varia Niaga berharap pasokan telur tetap terjaga meski kondisi harga di pasar mengalami perubahan. (riz)
Editor : Muhammad Rizki