Bawa UMKM Tembus Pasar Global, Omzet Capai Rp 1,2 Miliar

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 20:00 WIB
EKONOMI: Yuni Rachmawati, pemilik jenama Iwatik Balikpapan merangkul para lansia di lingkungan sekitar untuk menggoreskan canting batik dan memproduksi lembaran kain bernilai ekonomi.
EKONOMI: Yuni Rachmawati, pemilik jenama Iwatik Balikpapan merangkul para lansia di lingkungan sekitar untuk menggoreskan canting batik dan memproduksi lembaran kain bernilai ekonomi.

KALTIMPOST.ID - Di balik deretan kain etnik dan aroma kriya, tersimpan kerja senyap para perajin lokal yang kini berani melompat ke panggung digital. Pemilik Dame Ulos asal Tarutung, Tapanuli Utara, Renny Katrina Manurung mengatakan, wastra dan kerajinan tradisional tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai cendera mata atau produk budaya.

“Potensi ekonominya justru dapat diperbesar apabila pelaku usaha mampu mengemas cerita, kualitas dan identitas produk menjadi sesuatu yang relevan dengan konsumen masa kini," pesannya saat membagikan pengalamannya di hadapan puluhan perajin wastra Balikpapan dalam Workshop Digital Mahligai Nusantara 2026, di Balikpapan Sport and Convention Center (BSCC) Dome.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari itu persembahan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan. Kegiatan yang menyisakan potret nyata kebangkitan pelaku usaha lokal. Getar pesan tersebut dirasakan langsung oleh Yuni Rachmawati, pemilik jenama Iwatik Balikpapan.

Baca Juga: Kisah Widodo dan Ikhtiar BI Balikpapan Hidupkan Mesin Ekonomi Umat, Jaga Denyut Kemandirian Pangan

Dari rumah sederhana di kawasan Jalan RE Martadinata, Yuni memilih merangkul para lansia di lingkungan sekitar untuk menggoreskan canting batik dan memproduksi lembaran kain bernilai ekonomi.

"Kita memberdayakan ibu-ibu di sekitar rumah, kita kumpulkan, diajari dan dibina. Hasil batiknya nanti diserahkan ke kita untuk dijual dan bagian keuntungannya kita berikan kepada mereka," ungkap Yuni saat ditemui di arena pameran.

Meski melibatkan tangan-tangan renta untuk proses pencantingan, Yuni memilih membidik generasi muda sebagai target pasar utama. Ia menyiasati desain batik dengan warna-warna terang dan cerah yang diolah menjadi busana siap pakai (ready to wear).

Langkah ini diambil lantaran banyak calon pembeli kerap mengeluhkan kesulitan mencari penjahit yang cocok jika hanya membeli kain batangan. Produk busana siap pakai buatannya dipatok pada kisaran harga Rp 350 ribu hingga Rp 700 ribu per potong.

Baca Juga: Indonesia Proses Gabung Bank BRICS, Investasi NDB USD1 Miliar Belum Final

Selain pakaian jadi, kegemaran bepergian menginspirasi Yuni merancang tas jinjing dan koper kain etnik ramah pelancong dengan rentang harga Rp 300 ribu hingga Rp 750 ribu. Produk tas ini laris manis diburu para pelancong yang singgah di stan yang dia dirikan di hotel berbintang di Balikpapan sebagai hadiah.

"Kalau kain batik cap kami lepas Rp 400 ribu, sementara batik tulis jenis prada bisa mencapai Rp 3 jutaan. Tas pelancong juga lahir karena keresahan pribadi saat bepergian yang ternyata diminati banyak pendatang," kata Yuni menambahkan.

Pemerintah Kota Balikpapan menyadari betul bahwa bakat seni para perajin wastra membutuhkan sentuhan manajerial modern agar berdaya tahan lama. Ketergantungan perajin pada pesanan dinas atau pameran musiman perlahan mulai dikikis lewat program pembinaan kurasi produk.

Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Perindustrian (DKUKMP) Balikpapan Heruressandy Setia Kesuma menegaskan, pembenahan kualitas karya lokal mutlak membutuhkan transfer wawasan dari pelaku industri kreatif luar daerah. Regenerasi pembatik juga disiapkan agar tradisi wastra tidak terhenti di tangan generasi tua saja.

"Kami di sektor kerajinan berusaha mulai dari peningkatan kapasitas, memberikan keterlanjutan regenerasi muda dan yang paling utama digitalisasi. Pengrajin binaan baru sekitar 15 pelaku, namun karya mereka kami dorong agar punya daya saing tinggi," terang Heruressandy.

Dia menuturkan, perajin senior diarahkan menjadi mentor bagi perwira usaha pemula yang baru merintis bisnis kriya. Kerja sama antargenerasi ini diyakini mampu memangkas masa belajar pemula, baik dari sisi teknik produksi maupun manajemen pemasaran digital.

Ekosistem digital yang dirancang Bank Indonesia bersama BPPDRD Balikpapan kian meluas menyasar transaksi harian masyarakat. Di tempat yang sama, Deputi Kepala Perwakilan BI Balikpapan Wahyu Setyoko mengungkapkan, Balikpapan membidik target 80 juta volume transaksi digital nontunai dalam setahun.

Baca Juga: Nusron Wahid Tak Muncul saat KPK Menggeledah Kementerian ATR/BPN

Hingga pengujung kuartal ketiga, pencapaian transaksi nontunai telah melampaui separuh dari target tahunan yang ditetapkan. Perluasan kanal QRIS Tap, QRIS Tuntas, hingga transaksi lintas batas negara terus digencarkan sembari memperluas pembayaran parkir nontunai seperti di Balikpapan Permai.

"Kami terus mendorong kanal pembayaran nontunai yang efisien dan aman bagi warga kota. Di sisi lain, elektronifikasi parkir dan pajak daerah juga terus diperluas agar penerimaan kas daerah tercatat transparan," jelas Wahyu.

Lebih jelas, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi menguraikan bahwa transaksi belanja warga memberi dampak nyata secara langsung. Gerai makanan, minuman, wastra, dan kerajinan mencatatkan omzet total hingga Rp 1,2 miliar sepanjang acara.

Selain perputaran uang di arena pameran, fasilitasi temu bisnis pembiayaan perbankan hingga awal September 2026 sudah menembus angka Rp 3,33 miliar. Angka ini menjadi bukti konkret bahwa produk lokal kian dipercaya oleh lembaga keuangan perbankan.

Baca Juga: Kualitas Udara Biduk-Biduk Memburuk Akibat Karhutla, Ribuan Warga Berau Terserang ISPA

"Rangkaian event Mahligai Nusantara 2026 melibatkan total 123 UMKM, yang terdiri dari 45 UMKM makanan minuman olahan, 16 UMKM wastra, 4 UMKM handycraft, 36 UMKM kuliner dan 22 distributor atau produsen pangan," beber Robi.

Antusiasme warga juga tampak di area konsultasi, tempat 860 orang menggali informasi produk pembiayaan di Financial Corner. Selain itu, ada 784 pengunjung yang mendatangi stan konsultasi untuk mengurus merek, sertifikasi halal, Hak Kekayaan Intelektual (HKI), hingga peluang ekspor.

Pesta wirausaha ini kian semarak dengan parade fesyen pelajar, adu tari kreasi nusantara, lomba memasak bersama Chef Adie Miartadi, serta aksi panggung Rio Laskart selaku runner-up Indonesian Idol 2026.

"Semangat #BerayakBetampaSetaketMendenia atau Bersama Berkarya, UMKM Mengglobal diharapkan terus menjadi semangat bersama dalam memperkuat UMKM agar semakin tangguh, inovatif, berdaya saing, dan mampu membuka akses menuju pasar yang lebih luas," pungkas Robi. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Ekonomi Kreatif Kaltim Batik Iwatik Mahligai Nusantara UMKM Balikpapan Bank Indonesia Balikpapan