KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Pertumbuhan minat masyarakat terhadap dunia fesyen di Samarinda dinilai membuka ruang lebih luas bagi lahirnya pelaku industri kreatif baru.
Namun, bagi Emelda Andayani, bertambahnya jumlah penjahit belum cukup. Talenta fesyen perlu memiliki karakter yang membuat karyanya mudah dikenali.
Pandangan tersebut menjadi salah satu prinsip yang dibawa Emelda melalui Roda Seni Anthaqa. Dalam berbagai pelatihan, peserta tidak hanya diarahkan menguasai teknik menjahit, tetapi juga didorong mengembangkan kreativitas melalui sulaman, pengolahan kain, hingga penciptaan motif.
“Kalau cuma sekadar jadi penjahit ikut-ikutan itu ada banyak, ribuan. Tapi kalau berbeda, punya keunikan, punya ciri khas, itu akan diingat orang,” kata Emelda.
Baca Juga: Pertama di Kalimantan, PT BWL Kantongi Sertifikasi IFCC
Menurut dia, kemampuan setiap peserta memiliki karakter yang berbeda. Ada yang kuat dalam menjahit, tetapi belum menonjol dalam sulaman. Sebaliknya, ada peserta yang teknik sulamnya sangat baik meski kemampuan menjahitnya masih perlu dikembangkan.
Perbedaan kemampuan itu, kata dia, seharusnya tidak menjadi hambatan. Justru dapat menjadi peluang untuk membangun kolaborasi antarpelaku fashion. Salah satu materi yang kerap disisipkan dalam kelas Emelda adalah sulaman. Peserta diajak mengolah kain polos dengan motif buatan sendiri sehingga menghasilkan produk yang lebih personal.
“Kadang-kadang jahitannya tidak begitu bagus, tapi dari sisi sulaman bagus banget. Itu banyak saya temui,” ujarnya. Konsep tersebut juga berkaitan dengan upaya mengurangi limbah tekstil.
Potongan kain yang tersisa tidak harus berakhir menjadi sampah. Emelda mengajarkan peserta mengolahnya menjadi panel kain yang kemudian dapat kembali digunakan sebagai bagian dari pakaian.
Baca Juga: Dua Kali Kalah di Segiri, Borneo FC Bidik Kebangkitan saat Hadapi Bali United
Di sisi lain, Emelda melihat masih terdapat tantangan pada ketersediaan bahan fashion yang sesuai dengan kebutuhan desain di daerah. Beberapa jenis kain yang digunakannya masih didatangkan dari luar Kaltim, terutama dari Bandung.
Oleh sebab itu, dia tidak sekadar mendorong peserta mencari bahan baru, tetapi mengembangkan cara untuk memberikan karakter berbeda pada material yang tersedia.
Kain dapat diberi identitas melalui berbagai teknik, mulai dari sulam, payet, batik, hingga ecoprint. Dengan cara tersebut, bahan yang tersedia secara lokal dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah. “Bagaimana kita menyesuaikan dengan situasi yang ada, yaitu membuat motif sendiri,” jelasnya.
Fokus tersebut juga terlihat dari pilihan desain Emelda yang kini banyak mengarah pada busana anak. Dia menilai pasar pakaian anak di Samarinda cukup terbuka, terutama untuk busana kasual yang tetap memperhatikan kenyamanan dan karakter anak.
Dalam mendesain pakaian anak, pemilihan material menjadi salah satu perhatian utama. Bahan harus nyaman digunakan dan tidak mengganggu aktivitas anak yang cenderung aktif. Desain pun dibuat lebih longgar serta tetap menampilkan karakter sesuai usia pemakainya.
Baca Juga: 160 Masjid di Kalimantan Kini Terhubung Internet, Teknologi AI Mulai Dikenalkan ke Masyarakat
Pilihan itu tidak lepas dari pengalaman Emelda saat menempuh pendidikan fashion di Bandung. Sejak sekolah, para siswa sudah diarahkan mengenali karakter desain masing-masing melalui berbagai jenis busana.
Bagi Emelda, sebuah desain juga idealnya tidak berhenti sebagai karya panggung. Produk yang dibuat harus memungkinkan untuk digunakan dan memiliki peluang untuk dipasarkan. “Ketika kita membuat sebuah produk, bahkan untuk di panggung pun kalau bisa setelah di panggung itu bisa dijual,” katanya.
Prinsip tersebut kini diterapkannya dalam pelatihan. Emelda ingin peserta tidak hanya pulang membawa kemampuan teknis, tetapi juga memiliki pemahaman mengenai kualitas, kreativitas, keselamatan kerja, serta identitas produk.
Baca Juga: Mengenal Weekend Effect: Alasan Ilmiah Mengapa Akhir Pekan Bikin Tubuh dan Mental Lebih Sehat
Roda Seni Anthaqa menjadi wadah yang menaungi kegiatan pendidikan dan pengembangan industri kreatif. Sementara produk fashion yang dihasilkan dikembangkan melalui lini brand tersendiri. Pelatihan yang digelar juga disesuaikan dengan kemampuan peserta.
Dalam satu kelas, peserta pemula dan mereka yang sudah memiliki kemampuan dasar dapat dipisahkan agar proses pembelajaran lebih efektif.
Ke depan, Emelda berharap semakin banyak talenta fashion lokal yang mampu berkembang dengan karakter masing-masing. Bukan hanya menjadi tenaga jahit, tetapi berkembang sebagai pelaku industri kreatif yang mampu menciptakan karya dan bertahan dengan identitasnya. “Saya pengin fesyen di sini kita menjadi tuan rumah di tempat kita sendiri, termasuk dari tekstilnya,” pungkas Emelda. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo