KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Meski laju indeks harga konsumen (IHK) di Balikpapan tercatat mengalami deflasi tipis sebesar 0,03 persen secara bulanan pada Agustus 2026, tekanan dari kelompok makanan dan minuman masih terus membayangi daya beli masyarakat.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan Marinda Dama memaparkan, kelompok makanan, minuman dan tembakau masih mengalami inflasi bulanan sebesar 0,57 persen secara bulanan (month to month/tm) pada periode tersebut. Kenaikan harga ikan layang atau ikan benggol bersama cabai rawit menjadi penyumbang paling dominan yang mengerek indeks harga pangan.
Selain ikan layang dan cabai rawit, tekanan harga pangan juga dipicu oleh lonjakan harga komoditas hortikultura seperti kacang panjang, jagung manis, dan ketimun. Beberapa bahan pangan lain seperti daging ayam ras, jeruk, semangka, buncis, cabai merah, tempe, serta berbagai jenis ikan laut tangkapan juga masuk dalam daftar penyumbang inflasi bulanan.
Baca Juga: Dukung Mitigasi Karhutla di Muara Badak, PT SUAN Salurkan Bantuan Logistik Relawan
"Kenaikan harga sejumlah komoditas tersebut membuat tekanan pada kelompok pangan tetap terasa, meski secara keseluruhan inflasi Balikpapan pada Agustus justru berada di zona deflasi," kata Marinda, Senin (21/9).
Dia menjelaskan, secara tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 3,06 persen dengan andil mencapai 0,98 persen terhadap inflasi tahunan kota. "Artinya, pangan masih menjadi salah satu komponen penting dalam pembentukan inflasi tahunan Balikpapan," tambahnya.
Beruntung, lonjakan harga cabai dan ikan diimbangi oleh penurunan harga pada komoditas bumbu dapur utama seperti bawang merah dan bawang putih. Komoditas sayuran seperti tomat, kangkung, sawi hijau, serta pasokan udang basah, cumi-cumi, anggur, dan mi kering instan turut melandai sehingga meredam laju kenaikan harga kelompok pangan.
"Ketika sejumlah bahan pangan mengalami kenaikan, komoditas lain justru mengalami penurunan sehingga membantu menahan laju inflasi secara keseluruhan," beber Marinda. Di samping sektor pangan, kelompok transportasi memegang peranan krusial dalam membawa angka inflasi bulanan Balikpapan masuk ke zona minus 0,03 persen.
Baca Juga: Tangani Karhutla di Muara Badak, PT Tritunggal Sentra Buana Terjunkan Tim Pemadam dan Logistik
Tarif angkutan udara dan harga bensin menjadi komoditas dominan penyumbang deflasi bulanan, membuat kelompok transportasi mengalami deflasi sebesar 1,74 persen dengan andil deflasi 0,26 persen.
"Meski demikian, apabila dibandingkan dengan Agustus 2025, kelompok transportasi masih mencatat kenaikan harga yang cukup tinggi. Inflasi kelompok transportasi secara tahunan mencapai 15,10 persen dan memberikan andil sebesar 1,99 persen terhadap inflasi tahunan Balikpapan," tegasnya.
Menyikapi kerentanan pangan tersebut, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memfokuskan strategi pada penguatan rantai pasok dan produktivitas lokal. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi menegaskan, langkah pengendalian harga kini tidak lagi cukup hanya dengan menggelar pasar murah saat harga melonjak.
Strategi hulu seperti program Tani Camp, Gerakan Tanam Cabai, serta pemanfaatan pekarangan di Balikpapan dan Penajam Paser Utara (PPU) terus digencarkan untuk memperkuat benteng kemandirian pangan warga.
"Karena Balikpapan bukanlah kota produksi dan kebutuhan pangan kita masih dipasok dari luar, maka menjaga rantai pasok dari hulu ke hilir itu sangat penting jangan sampai terputus, serta kegiatan dan program menanam di pekarangan rumah itu juga kita dukung," ujar Robi.
Tantangan ke depan diprediksi kian kompleks seiring ancaman anomali cuaca terhadap sektor pertanian serta lonjakan kebutuhan konsumsi dari program pemenuhan gizi. "Lebih lanjut, akselerasi operasional SPPG yang masih akan terus berlanjut pada tahun 2026 berisiko mendorong peningkatan permintaan komoditas pangan, sehingga menjadi tantangan pemenuhannya ke depan," pungkas Robi. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo