Harga Rumah Baru di Balikpapan Tumbuh Melandai, Hunian Tipe Kecil Masih Jadi Primadona

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 19:25 WIB
TRANSAKSI: Penjualan rumah baru di Balikpapan menunjukkan sinyal pemulihan secara bertahap. Total penjualan pada triwulan II 2026 tercatat mencapai 75 unit dari pantauan 30 pengembang.
TRANSAKSI: Penjualan rumah baru di Balikpapan menunjukkan sinyal pemulihan secara bertahap. Total penjualan pada triwulan II 2026 tercatat mencapai 75 unit dari pantauan 30 pengembang.

KALTIMPOST.ID, ‎BALIKPAPAN - Perkembangan harga properti residensial primer atau rumah baru di Kota Balikpapan tercatat tumbuh terbatas dan melandai pada triwulan II 2026. Kondisi ini dipengaruhi oleh laju permintaan pasar yang masih cenderung selektif di tengah penyesuaian biaya konstruksi.

‎Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dirilis Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Balikpapan, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) agregat berada pada angka 107,58.

Angka ini mencerminkan kenaikan tahunan sebesar 1,19 persen (yoy), sedikit lebih rendah dibanding capaian triwulan sebelumnya sebesar 1,44 persen (yoy).

‎Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi memaparkan, penyesuaian harga jual rumah baru ini tidak lepas dari langkah pengembang dalam mengimbangi pembengkakan biaya produksi di lapangan.

Baca Juga: Geliat Kuliner Balikpapan Kian Menjamur, Terungkap Alasan Izin Usaha Kerap Dikira Mandek

‎"Kenaikan harga jual rumah baru dipengaruhi kebijakan pengembang untuk mengompensasi kenaikan harga bahan bangunan serta biaya tenaga kerja atau tukang. Penyesuaian ini terjadi pada seluruh tipe bangunan," ucap Robi.

‎Kenaikan harga rumah baru pada periode ini terutama ditopang oleh rumah tipe menengah yang tumbuh sebesar 0,46 persen (yoy), naik dibanding triwulan sebelumnya sebesar 0,38 persen (yoy). Sebaliknya, laju harga rumah tipe besar dan kecil tercatat melandai masing-masing di angka 2,02 persen (yoy) dan 1,71 persen (yoy).

‎Dari sisi pasar, transaksi rumah baru menunjukkan sinyal pemulihan secara bertahap. Total penjualan pada triwulan II 2026 tercatat mencapai 75 unit dari pantauan 30 pengembang, bertambah tipis dibanding triwulan I 2026 yang membukukan 72 unit.

Baca Juga: Tak Cukup Modal IPK, Astra Motor Kaltim 1 Gembleng Karakter Mahasiswa Uniba Masuk Dunia Kerja

‎Secara tahunan, volume penjualan rumah baru masih terkontraksi sebesar 50,66 persen (yoy). Kendati demikian, angka kontraksi tersebut sudah membaik dibanding triwulan sebelumnya yang anjlok hingga 55,56 persen (yoy).

‎"Volume penjualan rumah baru menunjukkan perbaikan dibandingkan triwulan sebelumnya, meski pemulihannya masih berlangsung bertahap. Permintaan paling kuat tetap didominasi oleh rumah tipe kecil seiring preferensi konsumen terhadap hunian dengan harga terjangkau," jelas Robi.

‎Komposisi penjualan sepanjang triwulan II 2026 didominasi oleh hunian tipe kecil dengan porsi 52 persen. Selanjutnya, disusul oleh rumah tipe menengah sebesar 27 persen dan rumah tipe besar sebanyak 21 persen.

‎Pada aspek pembiayaan, perbankan tetap menjadi tumpuan utama masyarakat dalam memiliki tempat tinggal. Sebanyak 72 persen konsumen menuntaskan transaksi melalui skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR), sementara pembayaran tunai bertahap menyumbang 24 persen dan tunai keras hanya 4 persen.

‎Realisasi penyaluran KPR di Balikpapan pada triwulan II 2026 pun naik menjadi Rp 5,01 triliun atau tumbuh 2,27 persen (yoy). Kualitas kredit perbankan dilaporkan tetap sehat dengan rasio kredit macet (NPL) yang terjaga aman di bawah ambang batas 5 persen.

‎Robi mengingatkan, ke depan industri properti residensial di Balikpapan masih harus berhadapan dengan sejumlah tantangan struktural yang memengaruhi keputusan beli masyarakat.

Baca Juga: Bantuan Pangan Beras Samarinda Cair untuk 54 Ribu Jiwa, Loa Bakung Jadi Wilayah Terbanyak

‎"Tantangan utama yang dihadapi pengembang antara lain tren kenaikan harga material, rekam jejak kualitas pinjaman calon debitur, kendala perizinan, hingga makin terbatasnya ketersediaan lahan untuk rumah tapak di Balikpapan. Selain itu, calon konsumen saat ini cenderung memprioritaskan alokasi dana untuk kebutuhan pokok dan dana darurat," pungkasnya.

‎Meski pasar properti di Balikpapan mulai menunjukkan geliat perbaikan volume transaksi, kehati-hatian konsumen dalam mengelola anggaran rumah tangga serta keterbatasan lahan perkotaan tetap menjadi penentu laju pertumbuhan sektor perumahan ke depan. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Rumah Murah Balikpapan Harga Rumah Baru Balikpapan KPR Balikpapan Properti Balikpapan Bank Indonesia Balikpapan