KALTIMPOST.ID-Struktur ekspor nonmigas Kaltim masih bertumpu pada sektor pertambangan. Kontribusinya mencapai sekitar 70–80 persen.
Namun, dalam lima tahun terakhir, dominasi sektor tersebut mulai menunjukkan tren menurun seiring meningkatnya kontribusi komoditas di luar pertambangan.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (DPPKUKM) Kaltim Ali Wardana mengatakan, perubahan struktur ekspor tersebut sejalan dengan kebijakan Pemprov Kaltim yang mendorong diversifikasi dan hilirisasi komoditas.
“Kalau dilihat dari tren time series lima tahunan, dominansi sektor pertambangan itu ada pergerakan menurun. Sejalan dengan program yang dilakukan oleh Pemprov Kaltim, yang berniat melakukan diversifikasi, hilirisasi dan mengangkat produk-produk atau komoditas di luar pertambangan,” kata Ali, Rabu (23/9).
Baca Juga: Kebakaran Gunung Guntur Balikpapan Hanguskan Tiga Rumah, Mobil BPBD Terjebak akibat Jembatan Patah
Menurutnya, tren tersebut menunjukkan upaya memperluas basis ekspor mulai bergerak ke arah yang diharapkan. Salah satu sektor yang mengalami peningkatan kontribusi adalah perkebunan, terutama kelapa sawit.
Saat ini, kontribusi sawit terhadap total ekspor Kaltim mencapai sekitar 13 persen. Angka itu meningkat dibandingkan lima tahun sebelumnya yang masih berada di bawah 10 persen.
Dalam dua tahun terakhir, kontribusi komoditas tersebut juga telah berada di kisaran 11 persen sebelum kembali meningkat.
Perubahan ini menjadi salah satu indikator mulai tumbuhnya peran komoditas di luar pertambangan dalam perdagangan Kaltim.
Untuk memperkuat diversifikasi, DPPKUKM membentuk satuan tugas peningkatan ekspor yang melibatkan organisasi perangkat daerah di tingkat provinsi dan kabupaten/kota hingga instansi vertikal dan kementerian.
“Pemprov melalui DPPKUKM melakukan berbagai langkah. Salah satunya kita membentuk tim satgas peningkatan ekspor,” ujarnya.
Baca Juga: Kabut Asap di Kutim Bikin Belajar Jarak Jauh, Distribusi MBG untuk TK hingga SMP Masih Dihentikan
Kolaborasi lintas sektor diperlukan karena peningkatan ekspor tidak hanya bergantung pada pemasaran.
Ketersediaan, kontinuitas, dan kualitas produk dari sektor hulu juga menjadi faktor penting agar komoditas daerah mampu menembus pasar internasional.
Pemprov juga memberikan pendampingan kepada pelaku usaha yang dinilai memiliki potensi ekspor.
Fasilitasi dilakukan mulai pengujian laboratorium untuk mengetahui kualitas produk hingga pengiriman sampel kepada calon pembeli di sejumlah negara.
“Uji lab ini sangat penting untuk diketahui bagaimana kualitas barangnya oleh calon pembeli. Kemudian kita juga fasilitasi pengiriman sampel-sampel ini dalam rangka menginformasikan ke berbagai negara di mana kita punya perwakilan,” pungkas Ali. (rd)
Editor : Romdani.