KALTIMPOST.ID-Kinerja ekspor Kaltim masih menghadapi tantangan struktural di tengah besarnya kontribusi perdagangan luar negeri terhadap perekonomian daerah.
Ketergantungan pada komoditas sumber daya alam serta pasar tertentu dinilai membuat ekspor Kaltim rentan terhadap perubahan permintaan global.
Pengamat ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul) Hairul Anwar mengatakan, naiknya nilai ekspor tidak semestinya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.
Perubahan struktur ekonomi menuju komoditas yang lebih beragam dan memiliki nilai tambah juga perlu menjadi perhatian.
Baca Juga: PGRI Kaltim Buka Suara soal Penataan Guru, Sebut Belum Dilibatkan dalam Mekanisme
Hairul mencatat nilai ekspor Kaltim pada 2021 sekitar 23,74 miliar dolar AS. Nilainya meningkat hingga mencapai sekitar 36,4 miliar dolar AS pada 2022, kemudian menurun pada tahun-tahun berikutnya.
Pada 2024, nilai ekspor Kaltim tercatat sekitar 24,67 miliar dolar AS. Berdasarkan data BPS yang disampaikan Hairul, sekitar 73,21 persen ekspor Kaltim masih bergantung pada komoditas berbasis sumber daya alam.
“Masalahnya dengan ekspor kita itu ada dua konsentrasi. Satu concentration by product, dua concentration by market,” kata Hairul, Rabu (23/9).
Konsentrasi produk terlihat dari dominasi komoditas pertambangan dan energi. Sementara dari sisi pasar, ekspor Kaltim masih banyak bertumpu pada kawasan Asia, terutama China dan India.
Struktur tersebut membuat kinerja ekspor daerah sangat dipengaruhi perkembangan ekonomi negara tujuan.
Ketika kebutuhan energi Tiongkok dan India meningkat, permintaan terhadap komoditas Kaltim ikut terdorong. Kondisi sebaliknya terjadi ketika pertumbuhan ekonomi dan permintaan di negara tujuan melemah.
Baca Juga: Ekspor Kaltim Masih Bergantung Tambang, UMKM Mulai Tumbuh Jadi Kekuatan Baru
Hairul menilai ketergantungan tersebut menjadi tantangan ketika terjadi perubahan kebijakan pemerintah pusat terkait produksi komoditas.
Kaltim sebelumnya dapat menikmati momentum kenaikan harga komoditas energi. Namun, ketika volume produksi mengalami pembatasan, menurut dia, dampaknya dapat merambat ke aktivitas dunia usaha hingga tenaga kerja. “Sekarang kita sibuk mengurusi masalah PHK-nya,” jelasnya.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya diversifikasi, tidak hanya terhadap produk ekspor, tetapi juga negara tujuan.
Dengan struktur yang lebih beragam, risiko akibat perubahan harga komoditas maupun melemahnya permintaan dari pasar utama dapat ditekan. (rd)
Editor : Romdani.