Ekonomi Kaltim Masih Bergantung Tambang, Pengamat Dorong Hilirisasi Sawit hingga Mineral

Ainur Rofiah • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 06:49 WIB
Pengamat ekonomi Unmul Hairul Anwar.
Pengamat ekonomi Unmul Hairul Anwar.

KALTIMPOST.ID-Ketergantungan ekonomi Kaltim terhadap sektor pertambangan dinilai tidak dapat dikurangi secara instan.

Transformasi membutuhkan sektor prioritas yang mampu menjadi lokomotif baru sekaligus memperpanjang rantai nilai sumber daya alam di dalam daerah.

Pengamat ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul) Hairul Anwar mengatakan, perkembangan teknologi dan semakin terbukanya perdagangan sebenarnya memberikan peluang bagi Kaltim mempercepat transformasi ekonomi.

Namun, pemerintah perlu menentukan sektor yang akan menjadi prioritas. Sebab, keterbatasan anggaran, modal, dan sumber daya membuat seluruh sektor tidak mungkin dikembangkan secara bersamaan.

Baca Juga: Vonis Maksimal 12 Tahun untuk Terdakwa Pencabulan Anak di Balikpapan, Keluarga Soroti Trauma Korban

“Yang terjadi sampai sekarang adalah kita tidak pernah sepakat bidang mana yang mau jadi lokomotif. Bidang mana yang mau di depan menarik yang lain,” kata Hairul, Rabu (23/9).

Menurutnya, penentuan sektor prioritas perlu diikuti peta jalan yang jelas agar transformasi ekonomi berjalan terarah. Langkah tersebut penting karena dominasi pertambangan masih kuat dalam struktur perekonomian Kaltim.

Hairul menilai, sebagian aktivitas ekonomi lain yang tumbuh di daerah bahkan masih berkaitan dengan kebutuhan sektor pertambangan.

“Dengan kata lain, kalau mau bilang kegiatan ekonomi yang lain itu tumbuh di Kaltim, cuma untuk menservis, men-support kegiatan tambang di Kaltim,” ujarnya.

Salah satu jalan mengurangi ketergantungan tersebut adalah memperkuat hilirisasi sumber daya alam.

Komoditas yang selama ini keluar sebagai bahan mentah perlu diolah lebih lanjut di Kaltim sehingga nilai tambahnya dapat dinikmati daerah.

Baca Juga: PGRI Kaltim Buka Suara soal Penataan Guru, Sebut Belum Dilibatkan dalam Mekanisme

Hairul mencontohkan kelapa sawit. Menurutnya, sebagian nilai tambah komoditas tersebut masih tercipta di luar Kaltim karena pengolahan lanjutan dilakukan di daerah lain.

“Kalau kita hilirisasi di sini, maka domestic value kita banyak. UKM kita ikut ke dalam itu segala macam. Itu yang benar,” katanya.

Selain sawit, peluang hilirisasi juga terbuka pada sektor kayu, mineral, perikanan, pupuk hingga industri kimia.

Pengolahan di dalam daerah dinilai dapat memperpanjang rantai ekonomi sekaligus membuka ruang keterlibatan lebih besar bagi pelaku usaha lokal dan UMKM.

Menurut Hairul, pola tersebut berbeda dengan industri ekstraktif yang keterlibatan pelaku ekonomi lokalnya cenderung lebih terbatas. “Energi itu tidak inklusif. Kalau kita bisa hilirisasi, dia akan jadi inklusif,” pungkasnya. (rd)

Editor : Romdani.
penajam paser utara ibu kota nusantara kelapa sawit Kutai Barat batu bara