KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Senin (12/10/2026) pagi. Mata uang Indonesia melemah 0,06 persen ke level Rp17.885 per dolar Amerika Serikat (AS), ketika sejumlah mata uang Asia justru bergerak menguat.
Berdasarkan data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia pada pukul 09.26 WIB, pergerakan mata uang kawasan Asia cenderung beragam. Dari 10 mata uang yang dipantau, enam menguat terhadap dolar AS, tiga melemah, dan satu lainnya tidak mengalami perubahan berarti.
Won Korea Selatan mencatat penguatan terbesar dengan kenaikan 0,41 persen ke posisi KRW1.334,9 per dolar AS. Ringgit Malaysia menyusul dengan kenaikan 0,10 persen, sedangkan dolar Singapura menguat 0,09 persen.
Baca Juga: Serangan Houthi di Bandara Riyadh Arab Saudi Tewaskan Warga Pakistan, 11 Orang Terluka
Penguatan juga terjadi pada yen Jepang sebesar 0,08 persen, dong Vietnam 0,07 persen, serta baht Thailand 0,03 persen. Sebaliknya, dolar Taiwan mengalami pelemahan paling dalam, yakni 0,11 persen.
Yuan China turut terkoreksi tipis 0,01 persen, sementara peso Filipina bergerak stagnan. Kondisi tersebut memperlihatkan tekanan terhadap mata uang di kawasan belum merata.
DOLAR MASIH JADI PERHATIAN
Di pasar global, indeks dolar AS atau DXY turun 0,07 persen ke level 102,145 pada perdagangan pagi. Meski terkoreksi, dolar masih bertahan di sekitar level tertinggi dalam 18 bulan, sehingga tekanan terhadap sejumlah mata uang dunia belum sepenuhnya mereda.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor. Meningkatnya serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi serta laporan serangan terhadap dua kapal tanker pada akhir pekan menambah ketidakpastian pasar.
Baca Juga: Cara Cek Rekening Penipu Online Sebelum Transfer Uang, Gunakan 3 Layanan Ini
Dalam situasi seperti ini, dolar AS berpotensi tetap diminati sebagai aset yang dianggap relatif aman. Perkembangan konflik juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pasokan energi dan pergerakan harga minyak dunia.
Namun, harga minyak mentah Brent justru turun sekitar 1 persen ke USD103,55 per barel pada perdagangan Asia. Penurunan tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina pada Minggu (11/10).
Analis Commonwealth Bank of Australia menilai ancaman serangan Houthi terhadap aset energi Arab Saudi masih berpotensi menopang harga minyak dan dolar AS. Sementara itu, peluang terobosan besar dalam upaya perdamaian AS-Iran pada pekan ini dinilai masih terbatas.
PASAR MENANTI INFLASI AS
Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat untuk September yang dijadwalkan pada Rabu. Data indeks harga konsumen (IHK) tersebut menjadi salah satu indikator penting menjelang rapat kebijakan Federal Reserve (The Fed) pada akhir Oktober.
Perhatian pasar tertuju pada kemungkinan arah suku bunga bank sentral AS setelah kenaikan pada September, yang disebut sebagai kenaikan pertama sejak 2023.
Data CME FedWatch menunjukkan peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini mencapai 81 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan perkiraan 51 persen sebulan sebelumnya.
Jika inflasi tercatat lebih rendah dari perkiraan, tekanan terhadap dolar AS berpotensi mereda. Sebaliknya, inflasi yang masih tinggi dapat memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat dan kembali memengaruhi pergerakan mata uang global.
Baca Juga: Viral Siswi SMPN 1 di Sidrap Dirundung 10 Teman, Ditampar hingga Dilempari Ompreng MBG
Barclays juga menilai penguatan dolar dalam jangka pendek berpeluang tertahan. Kondisi pasar obligasi yang bergejolak dan semakin ketatnya kondisi keuangan global dapat menjadi pertimbangan bagi pejabat The Fed dalam menentukan arah komunikasi kebijakan berikutnya.
Bagi rupiah, perkembangan inflasi AS, kebijakan suku bunga The Fed, serta situasi geopolitik menjadi sejumlah faktor eksternal yang perlu dicermati dalam perdagangan selanjutnya.
Editor : Uways Alqadrie