KALTIMPOST.ID - Kamerun menutup fase grup Piala Afrika 2025 dengan hasil manis. Indomitable Lions menang 2-1 atas Mozambik di Stade d’Adrar, Agadir, Kamis (1/1).
Kemenangan itu memastikan Kamerun finis sebagai runner-up Grup F. Mereka harus puas berada di bawah Pantai Gading yang meraih kemenangan dramatis 3-2 atas Gabon.
Posisi tersebut membawa Kamerun ke jalur berat di fase gugur. Rute Rabat menjadi tantangan besar yang harus mereka lalui jika ingin melangkah jauh.
Baca Juga: Mafia Tanah Usir Keluarga Lansia di Tegal: Sertifikat Tiba-tiba Beralih, Rumah Diratakan
Pada babak 16 besar, Kamerun dijadwalkan menghadapi Afrika Selatan di Al Medina Stadium, Rabat, Senin (5/1). Duel ini langsung menguji mental dan konsistensi sang raksasa Afrika.
Jika mampu melewati Bafana Bafana, tantangan yang lebih besar sudah menunggu. Kamerun berpotensi bentrok dengan tuan rumah Maroko di babak perempat final, 10 Januari, di Prince Moulay Abdellah Stadium. Syaratnya, Maroko harus lebih dulu menyingkirkan Tanzania sehari sebelumnya.
“Yang terpenting, kami sudah lolos ke babak 16 besar,” ujar pelatih Kamerun, David Pagou, dikutip dari Foot Africa. “Fase gugur selalu menghadirkan cerita baru.”
Baca Juga: Efisiensi Anggaran Tekan Event Besar, Industri Jasa Pernikahan Dipaksa Beradaptasi Tahun Ini
Afsel Lawan Licin
Afrika Selatan bukan lawan sembarangan. Bafana Bafana adalah semifinalis Piala Afrika 2023, sementara Kamerun justru terhenti di 16 besar pada edisi tersebut.
Catatan performa Afsel juga patut diwaspadai. Ronwen Williams dan kawan-kawan hanya sekali menelan kekalahan sepanjang 2025. Kekalahan itu pun terjadi saat takluk 0-1 dari Mesir pada matchday kedua Grup B Piala Afrika 2025, 27 Desember lalu.
Adapun kekalahan 0-3 dari Lesotho di awal tahun tercatat hanya di atas kertas. Afsel saat itu dihukum karena memainkan pemain tidak sah dalam kualifikasi Piala Dunia 2026.
Baca Juga: Tahun 2026 Jadi Titik Balik Industri Pernikahan, Generasi Z Tinggalkan Konsep Megah
Reuni Hugo Broos
Laga ini juga sarat aroma nostalgia. Afrika Selatan kini dilatih Hugo Broos, sosok yang delapan tahun silam mengantar Kamerun menjuarai Piala Afrika 2017.
Meski sukses besar bersama Indomitable Lions, Broos justru mengaku lebih puas dengan pencapaiannya di Afrika Selatan.
“Apa yang kami lakukan di tim ini membuat saya jauh lebih puas,” kata Broos kepada Goal. “Bersama Kamerun, juara Piala Afrika sudah seperti ekspektasi. Di Afrika Selatan, tidak banyak yang menduga kami bisa melangkah sejauh ini.”
Baca Juga: Masjid Jami Hidayatullah Buka 24 Jam, Ruang Singgah Pemudik di Jalur Pantura Subang Jawa Barat
Regenerasi Berjalan
Kemenangan Kamerun atas Mozambik juga menegaskan arah baru skuad. Gol penentu dicetak penyerang 19 tahun, Christian Kofane, pada menit ke-55.
Selain Kofane, Kamerun mengandalkan sejumlah talenta muda lain. Ada bek kiri Stade Rennes, Mahamadou Nagida (19), serta gelandang Brighton & Hove Albion, Carlos Baleba (21).
Pagou menegaskan regenerasi menjadi fokus utama timnya di Piala Afrika 2025. “Para pemain muda adalah masa depan sepak bola Kamerun. Mereka punya kualitas dan potensi besar,” ujarnya kepada All Africa.
Jejak Eto’o Kembali Terulang
Bagi Kofane, gol ke gawang Mozambik menjadi momen bersejarah. Itu adalah gol perdananya bersama Indomitable Lions.
Penyerang Bayer Leverkusen tersebut juga tercatat sebagai pencetak gol termuda Kamerun di Piala Afrika sejak Samuel Eto’o pada edisi 2000, saat sang legenda masih berusia 18 tahun.
“Samuel Eto’o adalah inspirasi bagi semua pemain muda Kamerun,” ujar Kofane kepada Camfoot. “Dibandingkan dengannya adalah kehormatan, tetapi saya ingin membangun jalan saya sendiri.”
Baca Juga: Naskah Khutbah Jumat Pertama di 2026! Muhasabah di Awal Tahun, Menata Hidup dengan Ketakwaan
Kini, di tengah rute neraka Rabat, Kamerun membawa harapan baru—dan cerita besar bisa saja kembali lahir. (*)
Editor : Ery Supriyadi