KALTIMPOST.ID, Dunia sepak bola Indonesia baru saja dikejutkan dengan kehadiran sosok penting di jajaran kepelatihan John Herdman.
PSSI resmi memperkenalkan Cesar Meylan sebagai Asisten Pelatih Performa Fisik Timnas Indonesia.
Namanya mungkin terdengar baru bagi telinga orang awam, namun di balik layar sepak bola dunia, ia adalah arsitek yang ditakuti lawan.
Cesar Meylan bukan hanya pelatih yang meniup peluit dan menyuruh pemain berlari. Ia adalah seorang ilmuwan olahraga tingkat elite.
Menyandang gelar Doktor (PhD) di bidang kekuatan dan kondisi fisik dari Universitas AUT, Selandia Baru, Meylan membawa pendekatan sains ke dalam rumput hijau.
Jika biasanya pemain hanya dilatih fisik secara umum, di tangan Meylan, setiap tetes keringat dihitung menggunakan data.
Ia ahli dalam memastikan pemain tetap bertenaga hingga menit terakhir, mencegah cedera sebelum terjadi, dan mempercepat pemulihan setelah laga berat.
Rekam jejaknya bukan main-main. Meylan adalah sosok kunci yang membawa Timnas Wanita Kanada meraih Medali Emas di Olimpiade Tokyo 2021.
Tak hanya itu, ia juga aktor di balik sejarah kembalinya Timnas Pria Kanada ke Piala Dunia 2022 setelah menunggu puluhan tahun.
Reputasinya diakui dunia saat ia dinobatkan sebagai Sport Scientist of the Year 2021.
Sahabat Setia John Herdman
Selama lebih dari 10 tahun, Meylan telah menjadi tangan kanan John Herdman. Di mana ada Herdman, di situ ada Meylan.
Kolaborasi mereka sangat unik, Herdman merancang strategi perang, sementara Meylan memastikan para pemain memiliki tubuh yang kuat untuk menjalankan strategi tersebut.
Di Timnas Indonesia, tugasnya sangat spesifik, yaitu mengelola beban latihan agar pemain tidak kelelahan atau loyo saat pertandingan, menggunakan data medis untuk menjaga pemain tetap bugar sepanjang musim, dan membangun mental disiplin dalam tim.
Sebelum menginjakkan kaki di Indonesia, Meylan menjabat sebagai Direktur Performa di klub raksasa MLS, Toronto FC.
Pengalamannya mengelola pemain di liga profesional Amerika Utara menjadi jaminan bahwa standar yang ia bawa ke Jakarta adalah standar dunia. ***
Editor : Dwi Puspitarini