KALTIMPOST.ID, BONTANG - Pemkot Bontang kembali menegaskan komitmennya dalam membangun semangat olahraga di kota berjuluk Kota Taman.
Salah satunya melalui pembentukan klub sepak bola kebanggaan baru, Bontang Khatulistiwa FC.
Langkah ini bukan semata tentang olahraga, tetapi juga upaya menghidupkan kembali kebersamaan antara pemerintah, masyarakat, dan sektor industri.
Baca Juga: Sambo Kaltim Lampaui Target, Raih Tiga Medali Emas
Sebab, kehadiran klub ini diharapkan menjadi simbol sinergi dan kebanggaan warga Bontang.
Dalam pertemuan bersama sejumlah perusahaan, Senin (21/10/2025), Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, menegaskan pentingnya dukungan industri.
Pemerintah berharap partisipasi melalui program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) atau sponsorship, demi menjaga eksistensi Bontang Khatulistiwa FC.
Namun, dari sekitar 70 perusahaan yang diundang, hanya 11 yang hadir. Situasi ini cukup disayangkan oleh pria yang akrab disapa AH tersebut.
“Saya cukup kecewa karena dari 70-an industri, yang datang cuma 11. Padahal ini untuk kebaikan bersama. Rabu (besok) akan ada rapat finalisasi, dan kami berharap semua perusahaan bisa membawa keputusan, apakah mendukung atau tidak,” ujarnya.
Menurut AH, rapat finalisasi itu menjadi momen penting untuk melihat sejauh mana komitmen perusahaan terhadap pembangunan olahraga di Bontang.
Proposal resmi pun akan dibagikan kepada seluruh perusahaan untuk menentukan bentuk dukungan masing-masing.
“Rabu kami finalisasi. Masing-masing perusahaan membawa keputusan, iya atau tidak. Kalau iya, berapa besar dukungannya. Kalau tidak, ya kami catat saja,” tambahnya.
Ia juga menepis anggapan bahwa langkah Pemkot Bontang merupakan bentuk tekanan terhadap dunia industri.
Menurutnya, upaya yang dilakukan pemerintah justru mengedepankan semangat kolaborasi.
“Ini bukan ancaman. Kami ingin kerja sama. Pemerintah dan perusahaan itu saling membutuhkan. Masa ada industri yang tidak mau bekerja sama untuk hal baik seperti ini?” kata AH.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pemerintah memiliki kewenangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
Karena itu, pemkot berhak mengatur koordinasi lintas instansi, terutama terhadap perusahaan yang belum menunjukkan itikad baik terhadap program pembangunan kota.
“Kami tidak pernah intervensi lurah, camat, atau dinas teknis. Tapi kalau perusahaan tidak hadir atau tidak mau bekerja sama, kami akan minta semua komunikasi perusahaan disampaikan melalui wali kota. Ini soal tata kelola dan komitmen bersama,” tegasnya.
Agus Haris juga menegaskan bahwa yang terpenting bukanlah seberapa besar bantuan yang diberikan, melainkan partisipasi dan niat baik untuk hadir serta berkontribusi.
“Kami tidak persoalkan besarannya. Kalau perusahaan masih dalam tahap pembenahan keuangan, silakan. Yang penting hadir, ada niat baik. Itu yang kami harapkan,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menilai kehadiran Bontang Khatulistiwa FC bukan sekadar proyek olahraga, melainkan simbol kebangkitan semangat warga Bontang.
Klub ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi para pemain muda untuk berkembang hingga ke level profesional.
“Banyak anak muda Bontang punya talenta hebat tapi tidak tersalurkan. Lewat Bontang Khatulistiwa FC, kita ingin buka jalan menuju Liga 3, bahkan ke tingkat nasional. Ini bukan hanya hiburan, tapi kebanggaan bagi kota kita,” pungkasnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi