KALTIMPOST.ID, MALANG – Konsistensi Borneo FC terus jadi buah bibir di Liga 1 musim ini. Tim berjuluk Pesut Etam itu kini tinggal selangkah lagi mencatat sejarah baru di kompetisi kasta tertinggi Indonesia.
Setelah menumbangkan Arema FC dengan skor 3-1 di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Minggu (26/10/2025), Borneo FC kini mengantongi delapan kemenangan beruntun.
Catatan itu hanya terpaut satu laga dari rekor sembilan kemenangan berturut-turut yang pernah diukir PSM Makassar pada musim 2022–2023.
Baca Juga: Momentum Kebangkitan! Persiba Hentikan Paceklik di Depan Pendukungnya
Peluang menyamai rekor PSM kini jadi sorotan besar di kubu Pesut Etam.
Syaratnya, mereka harus kembali menang saat menjamu Dewa United di Stadion Segiri, Samarinda, pada 5 November mendatang.
Pelatih Borneo FC, Fabio Lefundes, tak ingin jemawa meski timnya tampil mengesankan. Pelatih asal Brasil itu menegaskan bahwa tantangan terbesar bukan sekadar menang, tapi menjaga konsistensi permainan di setiap laga.
“Terus mencetak poin maksimal adalah yang kami cari. Tapi mempertahankan konsistensi tidak mudah, itulah tantangannya,” ujarnya.
Meski puas dengan hasil di papan skor, Lefundes menilai masih banyak aspek permainan yang perlu dibenahi. Ia menyoroti sikap pemain yang kerap kehilangan fokus saat unggul.
“Kalau melihat hasil, semuanya bagus. Tapi dari sisi permainan, masih ada kesalahan. Ketika lawan tidak menekan, pemain jadi terlalu rileks. Itu harus kami perbaiki,” beber mantan pelatih Madura United tersebut.
Baca Juga: Kaltim Tembus Lima Besar PON Bela Diri 2025, Sinyal Kebangkitan Menuju PON 2028
Sementara itu, manajer Borneo FC Dandri Dauri mengingatkan skuadnya agar tidak terjebak euforia rekor.
Ia khawatir tekanan untuk mempertahankan tren positif justru menjadi beban.
“Saya ingin pemain tak terlalu memikirkan soal rekor. Fokus saja ke pertandingan berikutnya,” tegas Dandri.
Dengan performa yang stabil dan moral tim yang tinggi, Borneo FC kini jadi salah satu kandidat kuat juara Super Leageu 2025/2026. Satu kemenangan lagi bisa membawa mereka sejajar dengan sejarah emas Juku Eja—atau bahkan melampauinya. (*)
Editor : Ery Supriyadi