KALTIMPOST.ID, Awal tahun 2026 menjadi babak baru bagi sepak bola Surabaya. Bernardo Tavares, pelatih bertangan dingin asal Portugal, resmi memutuskan untuk kembali ke Indonesia.
Namun, kali ini tujuannya bukan tempat biasa, melainkan sebuah klub dengan tekanan besar, Persebaya Surabaya.
Dikenal sebagai tim dengan basis suporter yang sangat menuntut, Persebaya kerap dijuluki sebagai "kuburan" bagi para juru taktik. Namun, alih-alih merasa gentar, Tavares justru merasa tertantang.
Tavares sadar betul bahwa ia tidak datang ke tim yang sedang sempurna. Dengan jujur, ia menggambarkan kondisi tim yang akan ia poles untuk sisa musim ini dengan sebuah perumpamaan sederhana.
Baca Juga: Lawan Bournemouth, Arsenal Dibayangi Rekor Kekalahan dan Kartu Merah Musim Lalu
“Saya tidak punya banyak telur untuk membuat omelet yang enak. Tugas saya adalah memanfaatkan telur yang ada sebaik mungkin, memilih yang terbaik, dan melihat siapa yang bisa dipertahankan untuk musim depan,” ujar Bernardo Tavares kepada jurnalis Luis Aresta.
Bagi pelatih berusia 45 tahun ini, sepak bola bukan sekadar angka di papan skor, melainkan tentang gairah.
Ia melihat Persebaya sebagai raksasa tidur yang sudah terlalu lama "berpuasa" dari gelar juara liga selama 22 tahun terakhir.
Meski ia menjadi pelatih keempat Persebaya di musim ini, Tavares tetap teguh pada pilihannya.
Baca Juga: Tak Masalah Tanpa Fajar, Fabio Lefundes Pastikan Lini Belakang Borneo FC Samarinda Tetap Solid
Ia tidak menutup mata pada label menyeramkan yang melekat pada kursi pelatih Persebaya.
“Persebaya dijuluki 'kuburan pelatih'. Basis suporternya (Bonek) sangat menuntut. Banyak pelatih bagus pernah datang, tapi tidak diberi waktu cukup untuk bekerja,” ungkapnya lugas.
Saat ditanya mengapa tetap mengambil risiko tersebut, ia menjawab singkat, “Saya suka tantangan.”
Tavares tidak menjanjikan keajaiban dalam semalam. Baginya, fondasi tim adalah kunci.
Ia dijadwalkan mulai memimpin latihan pada 5 Januari 2026, hanya dua hari setelah mendarat di Indonesia.
Fokus utamanya adalah melihat potensi pemain muda dan melakukan seleksi ketat untuk membangun tim masa depan.
Ia pun telah menyiapkan mentalitas khusus bagi para pemain dan pendukung Green Force.
“Kami perlu menyampaikan kepada para pemain dan penggemar bahwa musim ini akan sangat rumit,” tutur Tavares dalam wawancaranya dengan Ines Antunes dari Sport Informa.
Jika sebelumnya ia sukses membawa PSM Makassar juara dengan gaya bermain yang efektif, mampukah ia mengulanginya di Surabaya?
Tavares percaya bahwa kunci kemenangan adalah bermain cerdas dengan memanfaatkan kelebihan fisik pemain lokal yang cepat.
“Oleh karena itu, yang kami lakukan adalah memberikan bola kepada lawan, lebih fokus pada transisi. Dan begitulah cara kami menang,” jelasnya mengenai strategi yang mungkin akan kembali ia terapkan. ***
Editor : Dwi Puspitarini