KALTIMPOST.ID - Indonesia membawa gagasan baru mengenai pemanfaatan sepak bola dalam isu sosial melalui Liga Universitas yang diperkenalkan Ratu Tisha di forum PBB. Program tersebut dikenalkan sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran kesehatan mental di kalangan generasi muda melalui lingkungan yang dekat dengan masyarakat.
Kehadiran Ratu Tisha dalam forum PBB berlangsung di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat, pada forum bertajuk One World, One Game, One Goal: Football for Youth Mental Health and Well-being yang diselenggarakan United Nations Youth Office. Dalam kesempatan itu, Indonesia memaparkan pendekatan yang menggabungkan olahraga, pendidikan, dan riset akademik.
Melalui paparan tersebut, Liga Universitas diperkenalkan bukan hanya sebagai kompetisi sepak bola antarmahasiswa, melainkan juga sebagai ruang yang mendorong pembahasan kesehatan mental secara lebih terbuka. Program ini menghubungkan pertandingan sepak bola dengan penelitian ilmiah serta keterlibatan mahasiswa dalam gerakan sosial berkelanjutan.
Baca Juga: BMKG Rilis Prakiraan Cuaca Kaltim, Hujan hingga Kabut Asap Mengintai Wilayah Ini
Lapangan Sepak Bola Dipilih sebagai Ruang Aman untuk Anak Muda
Menurut Ratu Tisha, lahirnya program tersebut berawal dari pencarian tempat yang dinilai paling nyaman bagi masyarakat untuk mengekspresikan diri. Dari hasil itu, lapangan sepak bola dipandang sebagai ruang yang mampu mempertemukan banyak orang tanpa sekat sehingga lebih mudah membangun kepedulian terhadap kesehatan mental.
"Di Indonesia, ketika kami memulai inisiatif ini, kami bertanya di mana masyarakat sudah merasa aman untuk mengekspresikan diri. Jawabannya kami temukan di lapangan sepak bola," ujar Ratu Tisha dalam keterangan persnya, dilansir dari detiksport, Kamis (23/7/2026).
Pernyataan tersebut menjadi dasar pendekatan Indonesia yang menggabungkan pendidikan tinggi, penelitian akademik, dan keterlibatan mahasiswa dalam satu gerakan yang berkesinambungan.
Liga Universitas Jadi Wadah Kompetisi Sekaligus Penelitian
Dalam presentasinya di forum internasional itu, Ratu Tisha menjelaskan bahwa Liga Universitas Coca-Cola dirancang lebih dari sekadar kompetisi olahraga. Setiap pertandingan dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk menghasilkan penelitian mengenai kesehatan mental sekaligus mengajak masyarakat lebih terbuka ketika membutuhkan bantuan.
Program tersebut juga mengintegrasikan berbagai kegiatan pendukung, seperti Mind Corners, kampanye Play for Peace, hingga intervensi fisik dan psikologis berbasis sepak bola selama penyelenggaraan kompetisi berlangsung.
"Setiap pertandingan menjadi kesempatan bukan hanya untuk melakukan penelitian mengenai kesehatan mental, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk berani mencari bantuan," tegasnya.
Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Gerakan Indonesia
Ratu Tisha menjelaskan bahwa penyelenggaraan Liga Universitas Coca-Cola melibatkan kerja sama antara Pemerintah Republik Indonesia, United Nations di Indonesia, serta sektor swasta. Kolaborasi tersebut dinilai menjadi contoh bahwa isu kesehatan mental dapat diperkuat melalui sinergi berbagai pihak dengan sepak bola sebagai media pemersatu.
Seluruh inisiatif itu dijalankan melalui semangat "Beyond the Game, Into the Community", yaitu menjadikan sepak bola sebagai sarana menciptakan dampak sosial yang lebih luas bagi masyarakat.
Menutup pemaparannya di forum PBB, Ratu Tisha menyampaikan kebanggaannya terhadap program yang dibangun di Indonesia.
"Dengan penuh kebanggaan dan rasa cinta, saya mempersembahkan kepada dunia Liga Universitas Coca-Cola," tutup Ratu Tisha dalam keterangan persnya.***
Editor : Dwi PuspitariniSumber : detiksport