KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Penantian panjang terhadap kompetisi sepak bola putri nasional segera berakhir. Indonesia Women’s League (IWL) atau Liga Putri Indonesia resmi diperkenalkan dan dijadwalkan mulai bergulir pada 17 Oktober mendatang.
Kompetisi tersebut dibuka dengan pertandingan Persita Tangerang melawan Persija Jakarta di Stadion Sumantri Brodjonegoro, Jakarta.
CEO IWL, Teddy Tjahjono menjelaskan, musim perdana IWL diikuti enam klub. Mereka adalah Bekasi FC, Persikad Depok, Dewa United, Persija Jakarta, Persita Tangerang, dan Garudayaksa FC.
Baca Juga: Bukan Cuma Soal Gizi, ASI Jauh Lebih Unggul dari Susu Formula
Pemilihan enam klub yang berada di kawasan Jabodetabek bukan tanpa alasan. Teddy ingin memastikan kompetisi memiliki fondasi operasional yang kuat sebelum berkembang lebih besar.
“Jadi, kami mulai dengan enam klub di area Jabodetabek untuk memastikan bahwa secara operasional juga efisien,” ujar Teddy dalam konferensi pers peluncuran IWL di Jakarta, kemarin (11/8).
Konsep tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan liga. IWL diharapkan tidak hanya hadir dalam satu musim, kemudian kembali terhenti seperti kompetisi putri sebelumnya.
Sebelumnya, Liga 1 Putri sempat bergulir pada 2019. Namun, kompetisi tersebut hanya berlangsung satu musim dan kemudian vakum hingga sekarang.
Karena itu, komitmen keberlanjutan menjadi salah satu perhatian utama dalam pembentukan IWL. Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyebut klub-klub peserta telah menyatakan komitmen untuk menjalankan kompetisi dalam jangka waktu lima tahun.
Menurut Erick, keputusan memulai kompetisi dengan enam klub juga merupakan hasil kalkulasi yang cukup panjang. Salah satu pertimbangan terbesar adalah biaya operasional, terutama perjalanan antarkota yang menjadi tantangan tersendiri di Indonesia.
Baca Juga: Warm Chain yang Belum Utuh, Ketersedaiaan Ruang Laktasi Belum Sesuai Harapan
Karena itu, PSSI memilih pendekatan bertahap. Kompetisi tidak langsung dipaksakan dengan jumlah peserta besar yang berpotensi membebani klub.
Dengan klub-klub yang berada di kawasan Jabodetabek, biaya perjalanan dan akomodasi bisa ditekan. Skema tersebut juga diharapkan memberikan ruang bagi pemain yang masih berstatus pelajar atau mahasiswa.
Pertandingan direncanakan berlangsung pada akhir pekan sehingga aktivitas pendidikan pemain tetap dapat berjalan pada hari kerja.
“Nah, ini yang kita harus jaga kenapa kita mulai dengan enam klub dan jarak tempuhnya juga masih di sekitar sini. Klub-klub tidak perlu keluar uang untuk menginap, ya. Latihan jalan terus. Pemain bisa fokus (bertanding, Red) Sabtu-Minggu. Barangkali ada pemain, mohon maaf, yang masih sekolah atau kuliah, gitu, kan. Mereka masih bisa sekolah Senin-Jumat, kuliah, nah, tapi Sabtu-Minggu bal-balan,” terang Erick.
Terkait format, IWL musim pertama menggunakan sistem triple round-robin. Setiap klub dijadwalkan menjalani sedikitnya 15 pertandingan pada fase liga sebelum memasuki babak semifinal dan final.
“Jadi, itu adalah minimum menit bermain yang dimiliki oleh masing-masing klub untuk musim pertama ini,” tegas Teddy.
Penonton juga diperbolehkan menyaksikan pertandingan secara langsung di stadion. Bahkan, sejumlah pertandingan IWL berpeluang digelar beriringan dengan pertandingan Super League untuk memperbesar eksposur sepak bola putri.
Dari sisi pemain, penyelenggara telah melakukan proses grading terhadap sekitar 250 pemain. Mereka dikelompokkan ke dalam Grade A dan Grade B sebelum mengikuti proses drafting.
Sistem drafting diterapkan untuk menciptakan pemerataan kekuatan antarklub. Proses tersebut telah dibahas bersama para pemilik klub dan dilakukan melalui mekanisme pengundian yang disepakati seluruh peserta.
Setiap klub juga diperbolehkan memiliki maksimal empat pemain asing. Pada musim pertama, dua pemain diaspora, Isabelle Nottet dan Estella Loupatty, disebut masuk kategori marquee player.
Baca Juga: Menghentikan Konservasi dengan Cara Lama
“Kami memberikan regulasi di setiap klub itu boleh ada empat pemain asing. Nah, kebetulan kalau yang season pertama ini baru ada dua pemain diaspora yang bergabung. Saya tahu butuh waktu untuk meyakinkan mereka mau join di liga putri kita. Yang pertama Isabelle Nottet. Lalu kedua Estella Loupatty. Mereka menjadi marquee player,” ungkap Komisaris IWL, Vivin Cahyani Sungkono.
Dengan enam klub sebagai peserta awal, IWL diharapkan menjadi fondasi baru bagi kompetisi sepak bola putri nasional yang lebih berkelanjutan. (*)
Editor : Ery Supriyadi