Dulu Terkesima di Era Jennifer Bachdim, Kini Merayakan Bersama Jennifer Hubner

Ery Supriyadi • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 13:59 WIB
Ery Supriyadi
Ery Supriyadi
Oleh: Ery Supriyadi

Wartawan Kaltim Post

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – “Justin mau ayam goreng? Martabak? Nasi Padang? Bakso? Semua aku masakin, sayang. Semuanya.”

Begitu bunyi unggahan Jennifer Coopen, yang kini dikenal sebagai Jennifer Hubner setelah mengikuti nama belakang suaminya, Justin Quincy Hubner.

Bek tim nasional Indonesia itu saat ini membela Fortuna Sittard, klub Eredivisie Belanda. Unggahan sederhana. Tapi, entah mengapa, cukup untuk membuat senyum-senyum sendiri.

Timnas Indonesia baru saja memastikan gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026, Senin (5/10) malam. Garuda mengalahkan Thailand melalui drama adu penalti 4-2, setelah kedua tim bermain imbang 2-2 hingga waktu normal dan perpanjangan waktu.

Baca Juga: Prabowo Siapkan Bonus untuk Timnas Indonesia Usai Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Berapa Besarannya?

Rasanya menyenangkan. Sangat menyenangkan. Sampai tidur malam pun terasa lebih nyenyak.

Paginya, seperti biasa, tangan rasanya otomatis membuka media sosial. Instagram. X. Threads. Satu per satu dibuka. Warganet, khususnya netizen +62, masih larut dalam euforia. Unggahan tentang Garuda bertebaran di mana-mana.

Ada yang memuji pemain. Ada yang mengapresiasi John Herdman. Ada pula pundit dadakan yang mendadak muncul dengan analisisnya.

Namanya juga setelah pertandingan. Semua merasa punya hak menjadi pelatih sehari. Termasuk Jennifer. Unggahannya tentang Justin menjadi salah satu yang menarik perhatian.

Di luar itu, kemenangan ini memang terasa berbeda. Gelar juara tersebut sudah begitu lama dinanti, terutama oleh timnas senior. Sebab, dalam perjalanan panjangnya, Indonesia cukup akrab dengan kata hampir. Nyaris. Atau yang paling sering: runner-up.

Maka, ketika akhirnya trofi benar-benar berada di tangan, euforia terasa seperti tumpah begitu saja.

Malam di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, pun menjadi malam yang panjang. Malam yang menyenangkan. Seporsi kemenangan untuk WNI.

Ada satu masa yang tiba-tiba teringat. Desember 2010. Kala itu, suporter Indonesia juga begitu yakin skuad Garuda akan mengakhiri puasa panjang. Materinya memang meyakinkan.

Ada Markus Horison, Hamka Hamzah, Firman Utina, Cristian Gonzales, hingga Muhammad Roby yang saat itu memperkuat Persisam Putra, tim kebanggaan warga Samarinda. Di bawah racikan Alfred Riedl, skuad tersebut terasa seperti pemersatu bangsa.

Atribut timnas diburu. Saya pun ikut-ikutan. Kala itu, saya membeli jaket imitasi yang dijual di GOR Segiri. Harganya Rp150 ribu. Masih masuk anggaran.

Uangnya dari sisa beasiswa. Maklum, saat itu honor magang di Kaltim Post belum juga diterima. Saya masih dalam tahap percobaan sebagai wartawan.

Sambil mengikuti pelatihan jurnalistik, sambil menunggu jadwal seminar kelulusan. Tidak dinyana, malah kebablasan sampai sekarang. Jalan 16 tahun!

Kembali ke AFF. Kompetisi yang selalu dinanti setiap dua tahun itu punya cerita sendiri bagi Indonesia. Sayangnya, cukup sering cerita itu berakhir dengan posisi kedua.

Baca Juga: Ancaman El Nino Terkuat Sepanjang Sejarah: Hujan di Kaltim Diprediksi Meredup hingga 2027  

Melihat tim lawan naik podium. Melihat mereka mengangkat trofi. Sementara Indonesia kembali membawa pulang rasa penasaran.

Generasi 2010 sebenarnya punya materi yang lengkap. Dari belakang sampai depan, pemain-pemainnya punya kualitas. Dan tentu saja, masih ingat Irfan Bachdim?

Goyangannya setelah mencetak gol masih melekat di ingatan. Setiap kali berselebrasi, ada saja gaya khasnya. Materi pemain saat itu memang terlalu sayang jika hanya berakhir sebagai runner-up.

Tapi, sepak bola memang begitu. Ada waktunya menang. Ada waktunya menunggu.

Enam belas tahun kemudian, cerita itu seperti menemukan penutup yang manis. Irfan Bachdim dan istrinya, Jennifer Bachdim, turut bahagia melihat keberhasilan Kevin Diks dkk.

Irfan yang sedang berlibur bersama keluarga di Jerman bahkan membagikan momen ketika menyaksikan laga final Indonesia melawan Thailand melalui layanan streaming. Kemudian datang momen itu.

Emil Audero menepis tendangan pemain keempat Thailand dalam adu penalti. Indonesia menang 4-2. Selesai.

Barangkali, ada sedikit perasaan yang sulit dijelaskan. Tangis yang dulu membasahi wajah 16 tahun silam, kini berganti haru. Beban di dada seperti ikut terlepas.

Penantian panjang itu akhirnya menemukan ujung. Juara.

Namun, cerita tentu belum selesai. John Herdman sudah mengingatkan bahwa FIFA ASEAN Cup 2026 bisa menjadi modal menuju tantangan yang lebih besar.

Piala Asia 2027. Levelnya berbeda. Lawan-lawannya juga berbeda. Ada Jepang. Ada Qatar. Dan tentu Thailand, yang suatu saat mungkin datang dengan semangat membalas kekalahan.

Baca Juga: Dampak Karhutla Kepung Samarinda, DLH Perkuat Pantauan Kualitas Udara  

Tapi, itu nanti. Untuk sekarang, rasanya tidak ada salahnya menikmati kemenangan ini sedikit lebih lama. Biarkan media sosial penuh dengan unggahan tentang Garuda.

Biarkan netizen +62 kembali menjadi netizen +62. Dan izinkan saya ikut tersenyum. Sekaligus sedikit mengharu biru. Sebab, setelah menunggu 16 tahun, akhirnya kita punya alasan untuk merayakan sesuatu yang dulu hanya bisa dibayangkan. (*)

Editor : Uways Alqadrie
fifa asean cup 2026 Timnas Indonesia juara Jennifer Hubner Timnas Indonesia FIFA Series John Herdman