“Target tiga bulan selesai. Tapi kalau sudah dapat data akurat tidak sampai itu tiga bulan rampung,” kata Erwin.
Nantinya jika dari tunggakan ini kebanyakan dari warga yang sudah tidak berada di tempat, maka hanya satu solusinya. Berupa pemutihan tunggakan tersebut. “Kalau orangnya sudah tidak ada ya pemutihan,” ucapnya.
Pihaknya akan menggunakan pendekatan persuasid dalam menyelesaikan masalah ini. Ke depan ia juga memiliki program pengaliran jargas ke warung makan serta kawasan industri.
“Melalui ini bisa meningkatkan pendapatan perusahaan,” tutur dia.
Ke depannya, BME juga bisa berkontribusi terhadap pendapatan daerah. Sesuai dengan tujuan awal dibentuknya BUMD ini. Namun, ia belum bisa mematok berapa nominal yang akan diberikan di tahun pertamanya.
Sebelumnya, PT BME menghadapi masalah keuangan yang cukup serius akibat utang ke PT Pertamina. Pada akhir tahun lalu, BUMD ini mengalami kerugian sebesar Rp10 miliar. Kerugian tersebut bukan disebabkan oleh bisnis yang ada, melainkan karena tagihan dari Pertamina yang molor sejak 2019 hingga 2022.
Tagihan tersebut berkaitan dengan kenaikan harga gas pada tahun sebelumnya. Sebelumnya, PT BME membayar 5 dolar per MMBTU, namun kemudian naik menjadi 5,95 dolar per MMBTU. Selisih itu jika di kurs rupiah mencapai Rp10 miliar.
Secara proporsional, PT BME mendapat 20 persen dari total tagihan, sementara masing-masing 40 persen dibebankan kepada PT BBG dan PT BBRI. Akibat dari belum dibayarnya tagihan tersebut, pasokan listrik untuk PT Blackbear diputus sejak 1 Februari 2024.
Selain itu berdasarkan perhitungan KAP PT BME merugi Rp143 juta di akhir tahun lalu.
Editor : Uways Alqadrie