Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Wali Kota Bontang Kenakan Dua Pakaian Adat Berbeda Saat Upacara HUT Ke-80 RI

Adhiel kundhara • Minggu, 17 Agustus 2025 | 17:54 WIB

KHIDMAT: Upacara Peringatan HUT RI ke-80 dilaksanakan di Stadion Bessai Berinta Bontang. FOTO: ADIEL KUNDHARA/KP
KHIDMAT: Upacara Peringatan HUT RI ke-80 dilaksanakan di Stadion Bessai Berinta Bontang. FOTO: ADIEL KUNDHARA/KP

KALTIMPOST.ID, BONTANG- Upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia di Stadion Bessai Berinta, Minggu (17/8/2025), berlangsung khidmat dan penuh makna. Momen tersebut menjadi lebih istimewa dengan kehadiran Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, yang tampil mengenakan pakaian adat berbeda pada dua sesi upacara.

Pada upacara pagi hari, Neni tampil anggun dalam balutan busana adat Dayak khas Kalimantan Timur bernuansa kuning dan hitam. Penampilannya menambah nuansa budaya dalam prosesi sakral pengibaran Sang Merah Putih.

Menurut Neni, pemakaian pakaian adat ini merupakan bagian dari instruksi pemerintah pusat untuk menunjukkan kekayaan budaya lokal dalam peringatan kemerdekaan.

“Ini wujud kebanggaan atas keberagaman suku di Indonesia. Karena kita berada di Kalimantan Timur, saya mengenakan busana adat Dayak,” kata Neni.

Menariknya, pada upacara penurunan bendera di sore hari, Neni kembali mencuri perhatian dengan mengenakan pakaian adat Baju Boddo dari Sulawesi Selatan. Perubahan busana ini sekaligus mencerminkan semangat nasionalisme yang merangkul seluruh keberagaman budaya Tanah Air.

Selain penampilan Wali Kota, upacara juga melibatkan ratusan peserta dari unsur pemerintah, TNI-Polri, pelajar, hingga masyarakat. Meski sempat diguyur gerimis, upacara pengibaran bendera berlangsung khidmat.

Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) yang terdiri dari pelajar-pelajar terbaik Bontang sukses menjalankan tugas, dengan Naisya Vidya Al Safira Putri sebagai pembawa baki, Ahmad Azka Syaifullah sebagai pemimpin pasukan, Muhammad Shadra Shiraz sebagai pembentang, dan Vhiego Fauzan Damba sebagai penggerek bendera.

Keikutsertaan Wali Kota Bontang dengan busana adat berbeda dalam dua sesi upacara menjadi simbol kuat persatuan dalam keberagaman, sekaligus memperkaya semarak peringatan kemerdekaan Indonesia di Kota Taman.

Sementara pada upacara penurunan bendera, pembawa baki pertama dipercayakan kepada siswi SMA 1 bernama Nadine Ramadhani Cahya. Pemimpin pasukan pengibar bendera dijabat oleh Nabil Rindra Ramadhan dari SMA YPK. Ia bertugas bersama Willy Alfa Anugrah (SMK 2) sebagai penggerek bendera dan pembentang yakni Saefulloh Efendi pelajar SMA 1 Bontang.

“Penurunan itu lebih mudah dibandingkan pengibaran. Tetapi paskibra wajib tampil maksimal,” pungkasnya. (*)

Editor : Ismet Rifani
#Busana khas adat Dayak #baju bodo khas bugis #Neni Moerniaeni #Upacara 17 Agustus di Bontang