BONTANG - Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menegaskan komitmennya untuk menjadikan Erau Pelas Benua Guntung sebagai agenda budaya berskala nasional. Pernyataan ini ia sampaikan dalam kegiatan kebudayaan di Rumah Adat Guntung, Selasa (18/11).
Neni menyebut pelestarian budaya bukan sekadar seremonial, tetapi merupakan identitas yang harus dijaga bersama. “Budaya adalah warisan leluhur. Erau Pelas Benua Guntung ini menjadi kebanggaan dan identitas Kota Bontang. Saya meminta Dispora dan DPRD untuk sepenuhnya mendukung,” kata Neni.
Ia mengungkapkan bahwa Pemkot Bontang bakal mengajukan Erau Pelas Benua ke pemerintah pusat agar ditetapkan sebagai event nasional. Rencana ini akan dikemas dalam agenda lebih besar yang diberi nama Festival Bontang, yang di dalamnya mencakup Erau Pelas Benua, pekan batik Bontang, serta berbagai atraksi budaya lainnya.
Menurut Neni, konsistensi menghadirkan event budaya akan memperkuat persatuan masyarakat Bontang yang hidup dalam keberagaman. “Bontang dibangun dari perbedaan dan toleransi. Persatuan dan harmoni adalah komitmen kita. Kita tidak boleh terpecah,” ucapnya.
Ia juga menyinggung status 7 RT di wilayah Guntung yang berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi tetap masuk Kabupaten Kutai Timur. Neni menegaskan bahwa pemerintah menghormati keputusan tersebut.
“Meski begitu, masyarakat Guntung tetap menjadi perhatian kami. Ketaatan pada keputusan konstitusi adalah bagian dari kedewasaan bernegara,” tambahnya.
Selain memperkuat budaya, kegiatan seperti Erau Pelas Benua memiliki dampak luas bagi sektor pariwisata. Neni menyatakan bahwa promosi pariwisata menjadi keharusan, terutama melalui media digital. Ia mencontohkan bagaimana promosi “Amazin Khatulistiwa” dapat menarik wisatawan untuk mengenal Beras Basah, Segajah, Kampung Adat Guntung, hingga hutan laut Bontang.
“Branding itu penting. Jika kita ingin wisatawan datang, kita harus tampil menarik dan dikenal luas,” tutur dia.
Neni juga menegaskan bahwa penguatan event budaya akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi lokal. Jika Erau Pelas Benua masuk kalender nasional, potensi UMKM dipastikan akan meningkat. “UMKM kita akan tergali potensinya. Ekonomi mikro akan tumbuh. Itu efek domino dari event besar,” terangnya.
Ia meminta UMKM lokal terus meningkatkan kualitas, terutama kemasan produk. “Sering kali orang membeli oleh-oleh karena kemasannya menarik. Jika rasanya enak dan tampilannya bagus, itu menjadi sumber pendapatan masyarakat,” sebutnya.
Selain itu, Pemkot Bontang juga berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan industri agar memberikan ruang lebih besar bagi tenaga kerja lokal, termasuk pemuda Guntung. Neni menekankan bahwa anak-anak Bontang tidak boleh hanya menjadi penonton.
“Mereka harus diberi kesempatan seluas-luasnya untuk bekerja dan berkembang,” ujarnya.
Lebih jauh, Neni mengungkapkan bahwa berbagai program peningkatan ekonomi dan pendidikan telah menunjukkan hasil signifikan. Data BPS terbaru mencatat bahwa tingkat kemiskinan di Bontang menurun hingga berada di posisi kedua terendah di Kaltim, setelah Balikpapan.
“Ini hasil kerja bersama, termasuk dari penguatan UMKM dan bantuan tanpa bunga,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan kebanggaannya pada perkembangan pendidikan di kota itu. Pemerintah memberikan subsidi UKT untuk seluruh mahasiswa Bontang yang kuliah di daerah tersebut. “Pendidikan adalah investasi, bukan biaya. Kita ingin generasi penerus punya akses pendidikan tanpa hambatan,” tambahnya.
Di akhir sambutan, Neni mengajak seluruh masyarakat Bontang menjaga kota dan merawat keberagaman budaya yang telah menjadi kekuatan daerah tersebut. “Bontang adalah rumah kita bersama. Mari kita jaga dan majukan,” pungkasnya. (adv/ak/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan