KALTIMPOST.ID, BONTANG- Pemangkasan dana transfer ke daerah (TKD) dari pemerintah pusat membuat sejumlah program pembangunan di Bontang harus disesuaikan. Namun, satu proyek strategis dipastikan tidak terganggu dan tetap berjalan tahun depan yakni revitalisasi Waduk Kanaan. Program penanganan banjir terbesar yang menggunakan skema pembiayaan multiyears.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota (PUPRK) Bontang Much Cholis Edi Prabowo mengatakan meskipun terjadi penyesuaian fiskal akibat potongan TKD, anggaran untuk Waduk Kanaan tidak berubah dari kesepakatan awal yang telah disetujui DPRD Bontang melalui paripurna.
“Untuk proyek multiyears seperti Waduk Kanaan, nilai tahun pertama tetap Rp50 miliar. Tidak berkurang, tidak berubah,” kata pejabat yang akrab disapa Bowo ini. Ia menjelaskan, tahun 2026 menjadi fase paling krusial karena pekerjaan besar dilakukan pada tahap awal. Fokusnya adalah pendalaman waduk dan penurapan di seluruh sisi waduk.
Saat ini kedalaman Waduk Kanaan hanya sekitar lima meter, sehingga kapasitas tampung airnya sangat terbatas. Pada revitalisasi ini, pemerintah akan mengeruk 243 ribu meter kubik lumpur, sehingga volume air meningkat signifikan dan efektivitas waduk sebagai pengendali banjir bisa optimal.
Baca Juga: Poskamling RT 21 Satimpo Juara Pertama Lomba Poskamling Kecamatan Bontang Selatan
“Pendalaman dan penurapan dilakukan menyeluruh, mengelilingi waduk. Tujuannya meningkatkan kapasitas tampungan agar Bontang Selatan punya penahan banjir yang lebih kuat,” ucapnya.
Tahap kedua, yang berjalan pada 2027, akan fokus pada penataan kawasan daratan dan landscape waduk. Namun besarnya pekerjaan pada tahun lanjutan tetap menyesuaikan kondisi fiskal dan hasil evaluasi anggaran dari provinsi. “Tahun pertama itu yang paling besar. Tahun kedua lanjut ke daratannya. Skema multiyears sudah disusun dan tidak berubah,” tutur dia.
Bowo menambahkan, meski banyak program harus direvisi dan sebagian kegiatan terpaksa tidak masuk RKP tahun depan, revitalisasi Waduk Kanaan tetap diprioritaskan karena menjadi proyek strategis penanganan banjir jangka panjang. Ia menyebut bahwa program tersebut tidak hanya menyelesaikan pendangkalan, tetapi juga menjadi fondasi pengembangan sistem drainase kota.
Ia juga menegaskan bahwa proyek ini tidak akan terpengaruh oleh dinamika anggaran jangka pendek. “Mau TKD dipotong, mau terjadi inflasi, proyek ini tetap. Karena sudah komitmen bersama dan menjadi kebutuhan utama Bontang,” tutur dia.
Baca Juga: Pengadilan Tinggi Kaltim Perberat Hukuman Dua Terdakwa Korupsi, Uang Pengganti Naik Drastis
Dengan tetap berjalannya proyek multiyears ini, Pemkot berharap kapasitas Waduk Kanaan dapat meningkat besar dan menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi potensi banjir di Kota Taman. “Ini investasi besar untuk keselamatan warga dan masa depan tata ruang kota,” terangnya.
Diberitakan sebelumnya, nantinya pembiayaan ini dikucur dalam tiga tahun. Mulai 2026 hingga 2028. Pada 2026 anggaran pembangunan yang disiapkan mencapai Rp48,8 miliar. Setahun berikutnya yakni Rp129 miliar. Terakhir di 2028 sejumlah Rp88 miliar.
Selain pembangunan, Pemkot juga mengalokasikan biaya pengawasan teknis. Rinciannya untuk 2026 sejumlah 960 juta, Rp2,5 miliar di 2027, dan Rp1,7 miliar di 2028. Jika di total biaya tersebut mencapai Rp5 miliar.
Adapun biaya pengelolaan pengembangan senilai Rp1 miliar lebih. Rinciannya Rp195 juta di 2026, Rp532 juta di 2027, dan Rp369 juta di tahun terakhir. Berdasarkan desain yang telah dibuat, ada beberapa fasilitas yang dibangun di Waduk Kanaan. Mulai dari pos jaga, kantor pengelola, masjid, area food court, spot taman, dermaga tipe 1 dan 2, tempat sampah, area photobooth, hingga taman untuk acara pernikahan. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki