BONTANG - Kelurahan Satimpo kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu wilayah paling progresif di Kota Bontang. Dalam ajang Bontang Innovation Award 2025, kelurahan ini berhasil meraih nominasi Kelurahan Terinovatif berkat deretan gagasan kreatif yang konsisten diterapkan selama lima tahun terakhir.
Lurah Satimpo Maryono mengatakan sebenarnya ada lebih dari 32 inovasi yang telah berjalan. Namun enam di antaranya menjadi inovasi paling menonjol dan dipilih sebagai unggulan. “Selama lima tahun, kami menerapkan 32 inovasi. Yang enam ini adalah yang paling populer dan paling aktif diterapkan pada 2024–2025,” kata Maryono.
Enam inovasi tersebut merata di sektor lingkungan, pemberdayaan UMKM, penanganan stunting, hingga pengelolaan sampah. Menurutnya, keberhasilan Satimpo menjadi kelurahan terinovatif bukan hanya karena jumlah inovasi yang banyak, tetapi karena seluruh program dilaksanakan secara nyata dan berdampak langsung bagi warga.
Salah satu inovasi unggulan adalah Kertabumi (Kelurahan Satimpo Tanam Buah Mini). Program ini mewajibkan setiap rumah menanam tanaman buah berukuran kecil yang cepat berbuah. Tujuannya tidak hanya untuk penghijauan, tetapi juga menghasilkan buah yang bisa dikonsumsi warga.
“Tanaman buah mini tidak merusak bangunan dan mudah dirawat. Selain lingkungan hijau, warga juga mendapat hasil panen,” ucapnya.
Untuk sektor ekonomi, Satimpo memiliki program Dasi Rapi (Dana Stimulan Kelurahan untuk Pengembangan Ekonomi). Melalui program ini, dana stimulan digilir dari satu RT ke RT lain untuk mendorong UMKM lokal. Produk unggulannya mulai dari amplang hingga pempek yang menjadi ciri khas Satimpo.
“Setiap RT bergiliran mendapatkan dorongan untuk menghidupkan UMKM. Semangat ibu-ibu luar biasa,” tambahnya.
Di bidang lingkungan, terdapat inovasi Kampung Madu dan Kampung Mangga. Kampung Madu menggabungkan penghijauan melalui tanaman bunga pengantin dengan budidaya lebah madu.
Sementara Kampung Mangga mengubah bantaran sungai RT 25 yang dulunya kumuh menjadi ruang terbuka hijau, lengkap dengan area duduk dan pohon mangga produktif. Kini kawasan tersebut menjadi ikon baru sebagai tempat berteduh dan pusat buah musiman.
Inovasi lainnya adalah Kampung Kompos, yang mulai berjalan masif akhir tahun ini. Setiap RT akan memiliki drum komposter untuk mengolah sampah organik hingga menjadi pupuk kompos. Sampah plastik dipilah dan disalurkan ke bank sampah. “Secara bertahap semua RT akan memiliki drum kompos. Targetnya Januari mendatang sudah berjalan penuh,” tutur dia.
Sementara itu, untuk penanganan stunting, Satimpo memiliki program Saber Tebuka, yaitu pemberian satu piring telur kepada setiap anak yang datang ke posyandu. Awalnya program dijalankan secara swadaya oleh pegawai kelurahan dan PKK, namun kini mendapat dukungan APBD.
“Telur itu bisa diolah sesuai selera anak. Yang penting gizi mereka terpenuhi,” sebutnya. Maryono menjelaskan inovasi di Satimpo tidak berhenti di sini. Setiap tahun, kelurahan selalu memperbarui program sesuai kebutuhan masyarakat.
Contohnya, inovasi Misi Lusa (Jumat Bersih Lingkungan Satimpo) yang kini sudah diadopsi menjadi program kota. Begitu pula dengan inovasi RT Fantastik, yaitu RT Tanpa Sampah Plastik, yang kemudian menjadi dasar program satu RT satu bank sampah.
“Mempertahankan prestasi jauh lebih sulit daripada meraihnya. Karena itu kami terus memperbarui inovasi dan menciptakan yang baru,” pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki