KALTIMPOST.ID-Satu kasus kematian akibat demam berdarah dengue (DBD) menyasar pelajar SD di salah satu sekolah swasta Bontang, pada pertengahan bulan lalu. Pelajar yang berusia tujuh tahun ini berdomisili di RT 13, Kelurahan Gunung Elai.
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut. Ia menegaskan pentingnya kesadaran masyarakat untuk segera memeriksakan diri saat mengalami demam tinggi.
Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan, pasien disebut datang dalam kondisi yang sudah mengalami trombositopenia atau penurunan trombosit yang signifikan.
“Kalau sudah demam tinggi, jangan tunggu parah. Minimal ke puskesmas. Minum air putih yang banyak sebagai langkah awal,” kata Neni.
Ia menjelaskan, DBD dapat berkembang cepat tergantung kondisi metabolisme tubuh pasien.
Meski saat awal pemeriksaan trombosit masih dalam ambang batas, kondisi bisa menurun drastis selama perawatan.
Orang nomor satu di Kota Bontang ini juga menyoroti langkah mitigasi yang dilakukan pemerintah, termasuk fogging di beberapa titik. Namun, menurutnya fogging bukan solusi utama.
“Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Jentik-jentiknya tidak mati. Seminggu kemudian bisa berkembang lagi,” ucapnya.
Karena itu, ia kembali mengingatkan pentingnya gerakan 3M, yakni menguras, menutup, dan membersihkan tempat penampungan air. Lingkungan yang bersih, kata dia, adalah kunci utama pencegahan DBD.
Pemkot Bontang juga menggalakkan program Gerakan Jumat Bersih serta pengawasan di sekolah-sekolah untuk memastikan tidak ada genangan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Terkait metode pengendalian seperti nyamuk berteknologi Wolbachia, Neni menegaskan penelitian di Bontang masih berproses dan belum bisa menjadi andalan utama.
“Kita tidak bisa hanya berharap pada itu. Kalau lingkungannya kotor, tetap saja jadi tempat berkembang biak,” tutur dia.
Ia berharap kejadian serupa tidak terulang. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menekan angka kasus DBD di Kota Bontang.
“Yang paling penting tidak boleh ada genangan. Lingkungan harus bersih. Itu kuncinya,” pungkasnya. (rd)
Editor : Romdani.