KALTIMPOST.ID-Perayaan Paskah bukan hanya seremoni tahunan, melainkan momentum perubahan hidup. Gereja Toraja Jemaat Imanuel Bontang memulai perayaan paskah dengan pwai obor mengelilingi sekitar gereja. Kegiatan ini dilaksanakan Minggu (5/4/2026) 04.30 Wita.
Pendeta Gereja Toraja Jemaat Imanuel Bontang Yohanis Sapu’ mengatakan pawai ini dalam rangka menyiarkan kebangkitan Yesus Kristus. Hal ini juga dilakukan para murid-Nya pada waktu dulu Ketika hendak mengunjungi kubur Yesus. Tetapi para murid justru tidak mendapatkan jenazah Yesus.
“Ini seperti yang disampaikan bahwa Dia (Yesus) akan bangkit pada hari ketiga setelah kematian-Nya,” kata Yohanis Sapu’. Pawai disemarakkan oleh anak-anak hingga dewasa. Rutenya mulai dari halaman gereja, Jalan Zamrut, lapangan Kampung Baru, dan kembali finish di gereja. Dalam khotbahnya, ia mengangkat dari 1 Korintus 5:6-8.
Ia menyoroti pentingnya meninggalkan “ragi lama” sebagai simbol dosa dan kebiasaan hidup yang tidak berkenan kepada Tuhan. “Sedikit ragi saja bisa mengkhamirkan seluruh adonan. Artinya, dosa sekecil apa pun jika dibiarkan akan merusak seluruh kehidupan, bahkan persekutuan jemaat,” ucapnya.
Menurutnya, Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus sedang menegur adanya pembiaran terhadap dosa, khususnya percabulan dan kesombongan. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peringatan bagi gereja masa kini agar tidak menganggap remeh dosa.
Selain itu, ia menyampaikan dua hal penting yang harus diwujudkan jemaat. Pertama, setiap orang percaya diharapkan mampu menghidupi makna Paskah secara nyata dengan meninggalkan dosa lama. Kedua, para pemimpin jemaat dipanggil untuk menuntun umat dalam membangun kehidupan gereja yang bersih dari dosa, kepura-puraan, serta menumbuhkan pelayanan yang jujur dan murni.
“Paskah bukan hanya tentang sukacita, tetapi juga tentang keberanian untuk berubah. Kita diajak menjadi ‘adonan baru’, hidup dalam ketulusan dan kebenaran,” tutur dia. Kecenderungan manusia yang sering menganggap dosa kecil sebagai hal biasa. Padahal, menurutnya, dosa yang tampak sepele dapat berkembang dan menguasai hidup seseorang.
“Kadang kita berkata, ‘ini cuma kebohongan kecil’ atau ‘sekali saja tidak apa-apa’. Tapi justru dari situlah dosa bertumbuh dan merusak,” terangnya.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam kehidupan bergereja, sikap pembiaran terhadap kesalahan dapat merusak persekutuan. Namun, banyak orang enggan menegur karena alasan perasaan atau takut menyinggung.
“Pertanyaannya, apakah kita lebih mengutamakan perasaan manusia atau kehendak Tuhan?” katanya. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pengorbanan Yesus Kristus sebagai Anak Domba Paskah menjadi alasan utama umat percaya harus meninggalkan kehidupan lama.
“Betapa sia-sianya pengorbanan Kristus jika kita tetap hidup dalam dosa,” sebutnya. Ia mengajak jemaat untuk memeriksa diri masing-masing, apakah masih ada “ragi lama” yang disimpan dalam hidup, seperti kebencian, kemunafikan, atau kebiasaan buruk lainnya.
Menurutnya, perubahan hidup bukan hanya berdampak bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi kesaksian bagi orang lain. “Ketika kita berubah, kita menjadi terang. Orang lain bisa melihat dan memuliakan Tuhan melalui hidup kita,” ungkapnya.
Di akhir khotbah, Pendeta Yohanis mengajak seluruh jemaat untuk menjadikan Paskah sebagai titik awal pembaruan hidup. “Buanglah ragi lama. Paskah adalah perubahan hidup, bukan sekadar perayaan,” tutupnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki