Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

88,17 Persen Kasus Suspek Campak di Bontang Disebabkan Belum Terima Vaksin Lengkap

Adhiel kundhara • Selasa, 14 April 2026 | 16:51 WIB
VAKSINASI: 169 kasus suspek campak di Kota Bontang disebabkan sebagian besar karena belum mendapatkan imunisasi lengkap. FOTO: ADIEL KUNDHARA/KP
VAKSINASI: 169 kasus suspek campak di Kota Bontang disebabkan sebagian besar karena belum mendapatkan imunisasi lengkap. FOTO: ADIEL KUNDHARA/KP

BONTANG- Tingginya kasus suspek campak di Kota Bontang yang mencapai 169 kasus ternyata didominasi oleh anak-anak yang belum menerima imunisasi lengkap. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang, sebanyak 88,17 persen kasus terjadi pada kelompok tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Bontang, Bachtiar Mabe, mengatakan kondisi ini menjadi perhatian serius karena rendahnya cakupan imunisasi berpotensi mempercepat penyebaran penyakit.

“Rata-rata yang terkena campak adalah anak yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Ini yang menjadi fokus kami saat ini,” kata Mabe. 

Ia menjelaskan, imunisasi memiliki peran penting dalam membentuk kekebalan tubuh sekaligus mencegah penularan di lingkungan sekitar. Tanpa imunisasi, risiko penularan tidak hanya terjadi pada individu, tetapi juga orang lain di sekitarnya.

“Kalau tidak diimunisasi, bukan hanya anak itu yang berisiko, tapi juga lingkungan sekitarnya. Karena tidak terbentuk kekebalan kelompok,” ucapnya.

Untuk itu, Diskes Bontang terus menggencarkan program imunisasi yang berlangsung sejak April hingga Mei 2026. Program ini ditargetkan mampu menjangkau seluruh anak agar mendapatkan vaksin secara lengkap.

Namun demikian, pihaknya mengakui masih terdapat sebagian masyarakat yang enggan mengikuti imunisasi. Faktor kurangnya pemahaman menjadi salah satu penyebab utama.

“Yang belum mau imunisasi kemungkinan belum memahami pentingnya vaksin. Karena itu, kami terus melakukan edukasi agar masyarakat bisa lebih mengerti,” tutur dia.

Dalam penanganan kasus, Diskes tetap mengedepankan pendekatan kuratif sesuai gejala. Pasien dengan gejala ringan ditangani di puskesmas, sedangkan kasus yang membutuhkan penanganan lebih lanjut akan dirujuk ke rumah sakit.

Mabe juga menyebut kondisi serupa tidak hanya terjadi di Bontang, tetapi juga di berbagai daerah lain di Indonesia. Oleh sebab itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mendukung program imunisasi.

“Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi semua pihak. Kita harus bergerak bersama agar cakupan imunisasi bisa maksimal,” terangnya. 

Program kejar imunisasi serentak ini berlangsung sejak April hingga Mei. Balita yang belum mendapatkan imunisasi lengkap bisa berkunjung ke puskesmas di wilayah kerja masing-masing untuk mendapatkan cairan antibodi tersebut. (*)

Editor : Ismet Rifani
#Diskes Bontang #kasus campak tinggi #Bachtiar Mabe