KALTIMPOST.ID- Kabar duka datang dari lingkungan Pemkot Bontang. Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Bontang, Muhammad Syahbirin, meninggal dunia pada Senin (6/7/2026). Berdasarkan informasi yang diterima Kaltimpost, almarhum meninggal dunia sekira 15.00 Wita.
Informasi wafatnya pejabat yang dikenal mengurusi pengelolaan keuangan daerah itu dibenarkan Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. Menurutnya, kabar tersebut baru diterima sesaat sebelum dirinya memberikan keterangan kepada wartawan.
Neni mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya, Syahbirin diduga meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju rumah sakit. Almarhum diketahui memiliki riwayat gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan jantung. "Ini baru saja kami dapat kabar. Informasinya beliau meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit," kata Neni.
Kepergian Syahbirin meninggalkan duka mendalam bagi orang nomor satu di Kota Bontang itu. Sebab, hanya dua hari sebelumnya mereka masih sempat bertemu dan berbincang mengenai kondisi kesehatan maupun pekerjaan yang sedang dijalankan.
Neni mengaku sempat mengingatkan Sabirin agar menjaga kesehatan. Menurutnya, meski secara fisik terlihat baik-baik saja, ia tetap memiliki firasat untuk mengingatkan bawahannya tersebut agar tidak terlalu memforsir tenaga.
"Dua hari lalu saya ketemu beliau. Saya sempat bilang, Mas Sabirin jaga kesehatannya. Waktu itu beliau kelihatan sehat saja, badannya besar, saya berharap beliau tetap sehat," ucapnya. Pertemuan terakhir mereka terjadi usai rapat paripurna DPRD Bontang dalam rangka pengambilan keputusan P2APBD, Jumat lalu.
Selain itu, Neni juga mengingat momen ketika Syahbirin datang ke rumahnya di Samarinda pada malam hari untuk berdiskusi mengenai berbagai persoalan pemerintahan. Dalam kesehariannya sebagai Kepala BPKAD, Sabirin disebut sebagai sosok yang disiplin dan memiliki komunikasi yang sangat baik dengan pimpinan daerah.
Ia hampir selalu menyampaikan perkembangan berbagai persoalan keuangan daerah, termasuk kondisi fiskal dan proyeksi anggaran pemerintah. "Beliau itu baik sekali. Hampir setiap saat melaporkan perkembangan kepada saya. Bagaimana kondisi keuangan daerah, bagaimana proyeksi anggaran, semuanya selalu dikonsultasikan," ungkapnya.
Menurutnya, koordinasi yang intens tersebut menjadi salah satu alasan mengapa almarhum dikenal sebagai pejabat yang bertanggung jawab terhadap tugasnya. Setiap ada persoalan strategis, Sabirin tidak pernah mengambil keputusan sendiri, melainkan selalu berkonsultasi terlebih dahulu.
Neni pun mengaku sangat kehilangan sosok pejabat yang selama ini menjadi salah satu penopang pengelolaan keuangan Pemkot Bontang. "Beliau selalu konsultasi. Setiap ada perkembangan pasti menyampaikan kepada saya. Tentu kami sangat kehilangan," katanya.
Berdasarkan informasi yang diterima, jenazah Syahbirin rencananya akan dimakamkan di Samarinda. Hal itu karena keluarga almarhum, termasuk sang istri yang merupakan aparatur sipil negara di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, berdomisili di Kota Tepian.
Atas nama Pemkot Bontang, Neni menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan. Ia berharap almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan menghadapi musibah tersebut.
"Semoga almarhum husnul khatimah, diampuni segala dosanya, diterima seluruh amal ibadahnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan," pungkasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki