Begini Pengakuan Kepala SPPG Bontang Utara yang Sebut Kemiri Berlebih Duga Picu Keracunan MBG

Adhiel kundhara • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:35 WIB
SAMPAIKAN PENJELASAN: Kepala SPPG Bontang Utara 02 Api-Api Muhammad Rezky memaparkan SOP hingga menu yang dihidangkan saat kejadian keracunan pekan lalu. (ADIEL KUNDHARA/KP)
SAMPAIKAN PENJELASAN: Kepala SPPG Bontang Utara 02 Api-Api Muhammad Rezky memaparkan SOP hingga menu yang dihidangkan saat kejadian keracunan pekan lalu. (ADIEL KUNDHARA/KP)

KALTIMPOST.ID, BONTANG – Pengakuan penting muncul dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Utara Api-Api, setelah puluhan penerima manfaat mengalami keluhan mual dan diare usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala SPPG Bontang Utara Muhammad Rezky mengakui penggunaan kemiri dalam bumbu sayur lodeh pada menu MBG, diduga menjadi salah satu penyebab munculnya keluhan dari penerima manfaat.

Baca Juga: Mau Bikin Poster 17 Agustus? 25 Prompt AI Ini Bisa Dicoba, Ada Gaya Minimalis hingga Sinematik

Menurutnya, penggunaan kemiri tersebut dilakukan sebagai pengganti santan. Namun, dalam proses pengolahan, jumlah kemiri yang digunakan diperkirakan berlebihan. “Penggunaan kemiri kami kemungkinan ada berlebih sekitar 10 kilogram. Itu digunakan untuk bumbu sayur lodeh,” kata Rezky saat memberikan penjelasan terkait kejadian tersebut saat rapat koordinasi dan evaluasi program MBG di Bontang, Selasa (11/8).

Pengakuan tersebut menjadi perhatian karena sebelumnya pihak SPPG belum dapat memastikan sumber persoalan yang menyebabkan sejumlah penerima MBG mengalami gangguan pencernaan. Menu tersebut sebenarnya bukan menu baru bagi dapur SPPG Bontang Utara. Menu serupa sudah beberapa kali disajikan kepada penerima manfaat.

Namun, pada pengolahan kali ini terdapat perubahan bahan. Santan yang biasanya digunakan diganti dengan kemiri. “Menunya sebenarnya sudah sering kami gunakan beberapa kali. Akan tetapi, santannya kami ganti dengan kemiri,” ucapnya.

Baca Juga: SPK Wuling di GIIAS 2026 Tembus 3.290 Unit, Aira ev Jadi Pilihan Utama Konsumen

Dari laporan yang diterima SPPG Bontang Utara, penerima manfaat yang mengalami keluhan berasal dari sejumlah satuan pendidikan yang mendapat distribusi MBG. Rezky menyebutkan, total laporan yang diterimanya mencapai sekitar 27 orang, terdiri dari murid dan guru. Beberapa di antaranya mengalami diare dan mual setelah mengonsumsi makanan yang disalurkan dari dapurnya.

Laporan pertama diterima sekitar pukul 13.00 Wita dari PAUD Al-Hikmah. Kepala sekolah menyampaikan langsung adanya dua murid dan dua guru yang mengalami keluhan setelah menyantap MBG. Tidak lama berselang, laporan kembali datang dari SD 012 Bontang Selatan.

Rezky mengatakan, setelah mendapatkan laporan pertama, dirinya langsung berkoordinasi dengan pihak terkait. Dia mengaku sempat berencana mendatangi penerima manfaat yang terdampak, tetapi karena sebagian sudah meninggalkan lokasi, kunjungan kemudian diarahkan ke sekolah.

Baca Juga: Buntut Gagal di Piala AFF 2026, Masa Depan John Herdman Dipertanyakan, Kini Dievaluasi PSSI

“Saya pertama laporkan ke korwil saya. Selanjutnya Pak Surya langsung berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan,” tutur dia.

Terkait kondisi penerima manfaat, Rezky menyatakan seluruh korban yang telah dilaporkan berada dalam kondisi aman. Ia juga menyebut pihak SPPG sempat mendatangi sejumlah penerima manfaat pada awal kejadian.  Salah seorang guru bahkan disebut mengalami kondisi cukup berat hingga mengalami diare berulang.

“Guru yang cukup parah itu sampai lima kali mengalami diare. Sekarang sudah pulang dan kondisinya sudah membaik,” terangnya.

Meski telah menyampaikan dugaan penggunaan kemiri berlebih, Rezky menegaskan pihaknya tetap menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab kejadian. Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh penerima manfaat yang terdampak.

Baca Juga: Bujet Terbatas? Ini 20 Menu Makanan 17 Agustus yang Bisa Disiapkan untuk Banyak Orang

“Sebagai Kepala SPPG Bontang Utara Api-Api, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh penerima manfaat yang kami layani,” sebutnya

Rezky berjanji memperketat proses pengolahan dan pengawasan makanan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. "Untuk ke depannya kami akan perketat lagi dengan seketat-ketatnya,” pungkasnya. (*)

Editor : Dwi Restu A
bontang dugaan keracunan SPPG Mbg