Peringatan Hari Santri di Bontang: Agus Haris Tegaskan Peran Santri Menuju Indonesia Emas

Adhiel kundhara • Dipublikasikan Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16 WIB
BERI ARAHAN: Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris membacakan amanat dari Menteri Agama. (ADIEL KUNDHARA/KP)
BERI ARAHAN: Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris membacakan amanat dari Menteri Agama. (ADIEL KUNDHARA/KP)    

 

KALTIMPOST.ID, BONTANG - Santri tak lagi hanya dituntut menjaga tradisi keilmuan pesantren. Di tengah perkembangan zaman, mereka juga harus menguasai teknologi, melahirkan inovasi, dan memperkuat karakter bangsa.

Pesan itu mengemuka dalam Apel Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang di halaman Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bontang, Jalan Awang Long, Kamis (22/10/2026).

Baca Juga: Pemadaman Listrik di Bontang Kamis 22 Oktober, Giliran 9 Wilayah Ini Terdampak  

Wakil Wali Kota Agus Haris bertindak sebagai pembina apel sekaligus membacakan amanat Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar. Mengusung tema Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, peringatan ini menjadi momentum untuk menegaskan kembali kontribusi santri dalam perjalanan bangsa, sekaligus menjawab tantangan masa depan.

Apel tersebut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Sekretaris Kota Bontang Sony Suwito Adicahyono, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bontang, para kiai, pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam, serta pimpinan pondok pesantren.

Baca Juga: Dekat Koridor Tambang, Hutan Desa Tebangan Lembak Rawan Karhutla  

Sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) dan ratusan santri dari berbagai pondok pesantren di Bontang juga mengikuti kegiatan tersebut.

Dalam amanat Menteri Agama yang dibacakan Agus Haris, Hari Santri Nasional tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan. Peringatan ini merupakan pengingat atas peran besar kalangan pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terutama melalui Resolusi Jihad yang dimaklumatkan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.

Resolusi Jihad menjadi salah satu pemantik semangat perlawanan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan. Semangat perjuangan tersebut kemudian berkobar dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, yang hingga kini dikenang sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan bangsa.

Namun, tantangan santri masa kini tidak lagi terbatas pada perjuangan fisik. Perubahan zaman menuntut generasi santri mampu mengambil peran lebih luas, terutama dalam pengembangan ilmu pengetahuan, penguasaan teknologi, inovasi, dan pembentukan karakter.

“Hari ini, santri harus menguatkan negeri tidak hanya dengan perjuangan fisik, tetapi melalui ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, serta akhlak mulia,” demikian isi amanat Menteri Agama yang dibacakan Agus Haris.

Baca Juga: Gerebek Indekost di Teluk Lingga, Polsek Sangatta Utara Sita 4 Paket Sabu dari Pria 35 Tahun  

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa santri memiliki peluang sekaligus tanggung jawab besar dalam mendukung pembangunan nasional. Bekal ilmu agama dan nilai-nilai pesantren perlu berjalan beriringan dengan kemampuan menghadapi perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat modern.

Menyongsong Indonesia Emas 2045, santri diharapkan mampu menjadi sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing, dan adaptif terhadap perubahan. Meski demikian, modernisasi tidak boleh membuat santri kehilangan identitas maupun meninggalkan tradisi luhur yang selama ini menjadi fondasi pendidikan pesantren.

Pesantren dinilai memiliki peran strategis dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas, kedisiplinan, dan akhlak mulia. "Perpaduan antara penguasaan ilmu pengetahuan dan kekuatan moral menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan menuju satu abad kemerdekaan Indonesia," ucapnya.

Dalam amanat tersebut, kehadiran Direktorat Jenderal Pesantren di bawah Kementerian Agama juga disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat peran pesantren. Penguatan diarahkan pada tiga fungsi utama, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Ketiga fungsi itu diharapkan terus berkembang agar pesantren tidak hanya menjadi pusat pembelajaran agama, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

"Dengan dukungan pemerintah dan partisipasi berbagai elemen bangsa, pesantren diharapkan semakin berperan dalam mencetak generasi yang berilmu, mandiri, dan berakhlak," tutur dia.

Menteri Agama juga menegaskan bahwa semangat Hari Santri harus melampaui batas kelompok maupun golongan. Nilai perjuangan, persatuan, dan kecintaan terhadap tanah air merupakan warisan bersama yang harus terus dijaga seluruh masyarakat Indonesia.

“Hari Santri bukan hanya milik santri atau umat Islam semata, tetapi milik seluruh bangsa Indonesia yang menghargai perjuangan dan mencintai tanah airnya,” tegas Menteri Agama dalam amanatnya.

Pelaksanaan Apel Hari Santri Nasional 2026 di Kota Bontang pun menjadi gambaran kebersamaan antara pemerintah, tokoh agama, pimpinan pesantren, dan kalangan santri. Kolaborasi tersebut diharapkan terus terpelihara untuk memperkuat persatuan sekaligus mendukung pembangunan daerah.

Melalui momentum Hari Santri Nasional, santri Bontang diharapkan semakin siap mengambil bagian dalam pembangunan, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Semangat menguatkan negeri pun menjadi pijakan untuk menyiapkan generasi yang mampu berkontribusi bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045. (*)

Editor : Sukri Sikki
menteri agama agus haris Kota Bontang hari santri