KALTIMPOST.ID, pertama kali muncul di bioskop pada 31 Maret 2025, tak banyak yang menyangka bahwa film animasi ‘Jumbo’ akan membuat ledakan besar.
Tapi dalam hitungan 11 hari, film ini resmi ditonton lebih dari 2 juta orang, menjadikannya film animasi Indonesia terlaris sepanjang masa.
Namun, apa yang membuat ‘Jumbo’ begitu membekas? Jawabannya bukan cuma karena visual yang memanjakan mata atau pengisi suara papan atas seperti Ariel NOAH, BCL, dan Cinta Laura.
Yang membuat orang bertahan duduk, bahkan menangis tanpa suara, adalah ceritanya yang jujur, hangat, dan dekat dengan kehidupan kita.
Disutradarai Eks Komika
Sosok di balik layar adalah Ryan Adriandhy, mantan komika yang kini resmi mencetak sejarah lewat debut penyutradaraan film panjang.
Sebelumnya ia terlibat dalam animasi “Nussa dan Rara”, namun lewat ‘Jumbo’, Ryan seakan memeluk semua keresahan orang-orang yang besar tanpa banyak pelukan.
Tak heran jika dialog antar tokohnya begitu mengena. Salah satu yang paling membekas adalah adegan telur ceplok dan suara air mengucur di tengah keheningan.
Terlihat sederhana, namun menyimpan emosi dalam yang membuat banyak penonton meneteskan air mata tanpa sadar.
Baca Juga: Sosok Misterius di Balik Film Horor Pabrik Gula, Ternyata Pernah Terancam Nyawanya!
Proyek ini memakan waktu produksi lima tahun dan melibatkan lebih dari 200 kreator lokal.
Anak-anak pengisi suara bahkan direkam sejak usia delapan tahun, dan kini mereka sudah remaja.
Kesetiaan terhadap visi dan kesabaran tim menjadikan ‘Jumbo’ terasa seperti karya penuh cinta, bukan sekadar produk hiburan.
Bahkan tokoh-tokoh minor seperti trio kambing “Mbeek” disuarakan oleh nama-nama besar seperti Chico Jerikho, Ganindra Bimo, dan produser Angga Dwimas Sasongko sendiri. Sebuah dedikasi yang langka dalam industri perfilman lokal.
Salah satu momen paling menyentuh adalah saat Don dan geng-nya menyanyikan lagu ciptaan mendiang ibunya di Festival Kampung Seruni.
itu tak hanya menyentuh karena nada atau liriknya, tapi karena ada pesan rahasia tersembunyi di dalamnya.
Ternyata, huruf awal dari tiap lirik lagu membentuk kalimat “KAMI SELALU ADA DI NADIMU”.
Kalimat itu seperti bisikan dari ibu Don kepada anaknya yang sedang berjuang dan dari film ini kepada kita semua yang sedang berusaha bertahan dalam hidup.
Baca Juga: Bukan Air Putih Saja, 5 Minuman Ini Bisa Redakan Ngidam Manis Tanpa Tambah Gula
Dukung Seniman Lokal di Tengah Gempuran AI
Di tengah kekhawatiran bahwa AI akan menggusur peran seniman, ‘Jumbo’ justru menunjukkan bahwa hati manusia tetap tak tergantikan.
Setiap frame, setiap emosi, dan setiap detilnya terasa hidup karena dikerjakan oleh tangan manusia dengan rasa.
Banyak seniman animasi lokal yang merasa “kembali punya panggung” setelah lama terpinggirkan.
Baca Juga: Tujuh Ponakan Jadi Tanggung Jawab! Perjuangan Unik Chicco Kurniawan di 1 Kakak 7 Ponakan!
Uniknya, banyak tokoh publik yang jadi ‘buzzer’ sukarela untuk film ini. Mulai dari Iqbaal Ramadhan, Joko Anwar, hingga Medi Renaldy, ikut mempromosikan film ini tanpa dibayar karena merasa film ini punya makna lebih dari sekadar tontonan. ***
Editor : Dwi Puspitarini