Langit sore di Desa Kerta Buana, Kutai Kartanegara, menjingga ketika suara tabuh gamelan menggema dari pelataran Pura Pasupati.
ANAK-anak berlarian sambil menirukan gerakan para penari, remaja sibuk membenahi bendera, dan para orangtua duduk tersenyum bangga menyaksikan karya anak cucu mereka berdiri tegak. Ogoh-ogoh raksasa setinggi lebih 3 meter dengan mata menyala, taring menyeringai, dan tubuh menjulang, seperti hendak melompat ke langit.
Jumat, 28 Maret 2025. Hari itu bukan hari biasa bagi warga Kerta Buana, desa transmigrasi yang sejak puluhan tahun lalu dikenal sebagai “Kampung Bali” di tengah jantung Kutai Kartanegara.
Sebanyak lima ogoh-ogoh dari berbagai kelompok pemuda berdiri gagah di halaman pura. Masing-masing bukan sekadar patung—mereka adalah simbol, cerita, dan perlawanan terhadap keburukan dalam diri manusia.
Pewarisan budaya bukan tugas ringan, apalagi di tanah rantau. Tapi semangat itu terus menyala, bahkan melampaui sekadar ritual. Ogoh-ogoh menjadi titik temu antara generasi, antara adat dan zaman, antara spiritualitas dan seni.
Tradisi mengarak ogoh-ogoh bukan sekadar pawai. Ia adalah perjalanan spiritual yang melewati jalan-jalan desa, menyusuri gang, menyeberang perbedaan, dan menghidupkan memori ajaran leluhur.
Rute sepanjang 2 kilometer dilalui ratusan warga, dari Pura Pasupati di RT 16, melewati Jalan Pandawa, Jalan Poros Samarinda-Tenggarong, Jalan Sadewa, Jalan Bima, hingga kembali ke pura.
Tak hanya pria dewasa yang terlibat. Anak-anak kecil ikut mengibarkan bendera. Ibu-ibu menyiapkan kudapan, dan para remaja menjadi bagian dari tim dokumentasi.
Di satu titik, ogoh-ogoh berbentuk raksasa hijau bernama Mahesasura digotong puluhan pemuda dengan kekompakan luar biasa.
Di titik lain, ogoh-ogoh bertema pejuang suku dengan bulu-bulu di kepala mencuri perhatian warga karena tampil unik dan berbeda dari biasanya.
Tahun ini, ogoh-ogoh yang diarak memiliki makna tambahan. Di tengah persiapan menyambut Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada Kukar 2025, para pemuda Hindu yang tergabung Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) Kukar menyampaikan pernyataan sikap terbuka.
Mereka menyerukan pentingnya menyukseskan PSU yang digelar 19 April mendatang.
“Kami mendukung Polres Kutai Kartanegara dalam mewujudkan situasi aman dan damai dalam pelaksanaan PSU pemilihan bupati dan wakil bupati 2025,” tegas Ketua Peradah Kutai Kartanegara, Ida Bagus Siwa Purbhawa.
Pesan itu bukan basa-basi. Karena di desa seperti Kerta Buana, kerukunan adalah fondasi kehidupan.
Mereka sudah terbiasa hidup berdampingan dengan warga dari berbagai etnis dan agama. Dan pawai ogoh-ogoh menjadi cermin nyata, budaya dapat menjadi alat pemersatu yang kuat.
Editor : Dwi Restu A