KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN-Desain pada Kawasan Istana Kepresidenan di Ibu Kota Nusantara (IKN) dibuat oleh seniman asal Bali, I Nyoman Nuarta.
Pria yang terkenal dengan seni patungnya ini, mendesain kawasan berdirinya Istana dan Kantor Presiden serta lapangan upacara seluas 55 hektare.
Akan tetapi, I Nyoman Nuarta agak kecewa. Karena banyak desain yang sudah dibuatnya telah diubah.
Hal tersebut diceritakannya pada Pada kegiatan Bincang-Bincang IKN & Bedah Buku "IKN Nusantara dari Pakunegara untuk Indonesia dan Dunia" di Universitas Balikpapan, Jumat (12/7) lalu.
Perubahan yang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) selaku kementerian yang ditugaskan membangun kawasan tersebut, dinilai I Nyoman Nuarta membuat desain Kawasan Istana Kepresidenan tampak kurang bagus.
“Saya sebenarnya mendesain seluruh Komplek istana yang luasnya 55 hektare. tapi saya lihat banyak desain-desain yang di-rubah-rubah. Kemudian jadi tampak kurang bagus. Jadi yang tidak di-rubah itu adalah Garuda dan Istana. itu langsung dikontrol oleh Presiden dan saya. Makanya masih tampak utuh. Yang lainnya diubah-ubah,” katanya.
I Nyoman Nuarta melibatkan sebanyak 47 orang dalam timnya untuk memasang bilah-bilah Garuda pada Kantor Kepresidenan tersebut. Tentunya dengan melibatkan para ahli di bidangnya.
Di mana panjang Garuda secara keseluruhan adalah 230 meter. Dengan tinggi 77,7 meter. Yang ditutupi oleh bilah-bilah Garuda sejumlah 4.661 bilah dalam 17 segmen.
Akan tetapi, I Nyoman Nuarta kembali kecewa. Karena interior di dalam Kantor Kepresidenan yang dibalut bilah Garuda itu, kurang berkoordinasi dengannya. Sehingga harapannya dapat menjadi green building atau bangunan ramah lingkungan menjadi tidak tercapai. Karena harus menggunakan pendingin ruangan.
“Cuma sayang, sekarang ini interiornya kurang koordinasi. Tapi katanya kepentingan security (keamanan), kacanya ditutup. Jadi agak panas. Akan pakai AC (air conditioner atau pendingin ruangan). Padahal konsep saya enggak pakai AC,” ucap pria kelahiran Tabanan, 14 November 1951 ini.
Sementara itu, untuk ruangan tunggu di dalam Kantor Kepresidenan itu, masih tetap mengusung konsep green building. Ruangan yang berada di dek pada bagian sayap Garuda itu, di bawahnya akan dibuatkan hutan.
“Makanya saya yang sudah umur segini enggak boleh naik. Tidak diperkenankan. Walaupun kalau maksain diri berani-berani juga dikit-dikitlah. Yang naik itu hanya umur 36 tahun. KIta punya sebutan di di staf-staf kita itu anak-anak yang berani ini yang naik ini kita sebut “manusia langit,” terangnya.
Dia pun merasa bangga karena dipilih Presiden untuk mendesain Istana dan Kantor Presiden ini. Oleh karenanya dia harus bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaan tersebut. Dengan masa kontrak selama 11 bulan. Namun diperpanjang sampai dengan Juli 2024.
“Bayangkan saja gede-nya ini yang namanya Garuda. Memeluk bukit yang sekarang jadi depannya. Itu tadinya bukit, tingginya 44 m dari 0 jalan. Kalau dihitung panjang bangunan itu 230 meter. Dikerjakan belum nyampai 1 tahun.
Anda menganggap itu prestasi atau tidak, itu tidak penting. Tapi harus selesai bagus. Kenyataannya bahwa mengerjakan ini dulu ‘kan enggak boleh saya mengerjakan langsung. Harus dikerjakan sama BUMN pemenangnya. Sehingga terjadilah sedikit kesalahan-kesalahan. Terutama arsitek sekarang harus siap-siap dengan BIM. Itu sekarang menjadi syarat,” jabar I Nyoman Nuarta.
Building Information Modeling (BIM) adalah alat cerdas berbasis model 3D yang menyediakan representasi digital dari aspek fisik dan fungsional fasilitas. Dengan menggunakan BIM itu, membuat pemasangan bilah Garuda menjadi agak lama.
Karena setiap bilah memiliki titik koordinatnya sendiri. Sehingga, kalau salah memasang bilah yang dilengkapi dengan kode batang atau barcode maka tidak akan cocok dan terpasang dengan baik.
“Itu kesulitannya. Karena ada orang lain yang belum tentu paham dengan kita. Mereka menganggap ini kerjaan arsitek biasanya. Ada yang mengerjakan ininya bisa orang lain, ini kenyataannya tidak demikian. Walaupun hubungan kerja kita yang sekarang jadi main kontraktornya PT PP dan PT Wika itu bagus sekali. Tapi pabrikasinya ‘kan orang lain,” tandasnya.
Sebagai informasi, paket kegiatan Pembangunan Bangunan Gedung Istana Negara dan Lapangan Upacara pada Kawasan Istana Kepresidenan di Ibu Kota Negara itu telah dikerjakan oleh PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PT PP) sejak November 2022 lalu. Di mana PT PP menjadi pimpinan konsorsium yang menggarap dua proyek senilai Rp 1,34 triliun itu. (kip/waz)
Editor : Dwi Puspitarini