KALTIMPOST.ID,IKN-Peringatan Nuzulul Quran Nasional yang digelar di Masjid Negara Ibu Kota Nusantara (IKN), Sabtu (7/3), menjadi momentum penting bagi Otorita IKN (OIKN) untuk menegaskan komitmen pembangunan berbasis lingkungan. Agenda religi ini sekaligus menandai operasional perdana masjid yang digadang-gadang menjadi simbol keberagaman di Nusantara tersebut.
Kepala OIKN, Basuki Hadimuljono, mengungkapkan rasa syukurnya lantaran rumah ibadah yang baru saja rampung itu langsung difungsikan untuk syiar skala nasional. Mengusung tema “Alquran, Amanah Ekologis, dan Jalan Perdamaian Dunia”, Basuki menyebut IKN bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan manifestasi menjaga keseimbangan ekosistem.
“Tema ini adalah pesan kuat bagi dunia. IKN mengutamakan kelestarian dan biodiversitas. Dari total 252 ribu hektare wilayah IKN, kita hanya menggunakan 25 persen untuk area perkotaan. Sisanya, 65 persen adalah hutan lindung dan 10 persen untuk ketahanan pangan,” kata Basuki Hadimuljono kepada wartawan, Minggu (8/3).
Mantan Menteri PUPR itu juga memberikan apresiasi kepada Kementerian Agama yang telah menetapkan Masjid Negara IKN sebagai "masjid kembar" dengan Masjid Istiqlal Jakarta. Hal ini mempertegas peran strategis masjid tersebut sebagai pusat peradaban baru di Kalimantan Timur.
Antusiasme warga tampak luar biasa. Ribuan jamaah dari Penajam Paser Utara (PPU), Balikpapan, Samarinda, hingga Paser memadati aula masjid sejak sore hari. Suasana makin hangat saat momen berbuka puasa dengan sajian khas "Bubur Nusantara" yang melambangkan persatuan.
Sebelum puncak acara, rangkaian kegiatan diisi dengan sesi ngabuburit bertajuk “Seimbang Bekerja, Bijak Merawat Diri”. Dalam tausiahnya, Ustaz Ambia Dahlan mengingatkan generasi muda tentang pentingnya kesehatan mental di tengah dinamisnya pembangunan IKN.
Kekhusyukan acara semakin terasa saat lantunan ayat suci Alquran dikumandangkan oleh Imranul Karim, Juara 1 Tilawah MTQ Internasional Bangladesh 2025. Sementara itu, Guru Besar Universitas PTIQ Jakarta, Prof. HM Darwis Hude, dalam ceramahnya menekankan bahwa Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperkuat kesadaran manusia terhadap harmoni ciptaan Tuhan.
"Alquran adalah mukjizat. Melalui momentum ini, kita diingatkan untuk kembali menajamkan kualitas ibadah sekaligus memperkuat tanggung jawab kita dalam menjaga alam," kata Prof. Darwis.(*)
Editor : Hernawati