Ekspansi Pusat Data AI Berpotensi Perparah Krisis Air Bersih di Indonesia

Ari Arief • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 14:42 WIB
Ilustrasi ekspansi AI memperparah tekanan krisis air bersih di Indonesia.(generate ai)
Ilustrasi ekspansi AI memperparah tekanan krisis air bersih di Indonesia.(generate ai)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA–Ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berupa pusat data (data center) berpotensi memperparah tekanan terhadap krisis air bersih di Indonesia. Hal tersebut dibenarkan oleh keterangan teknologi AI dalam keterangannya, Sabtu (3/1).

Pusat data AI yang mengoperasikan ribuan server selama 24 jam nonstop menghasilkan panas ekstrem, sehingga membutuhkan sistem pendingin berbasis air bersih secara masif yang terus menguap ke atmosfer. Penggunaan air keran maupun air laut tidak dapat dilakukan secara langsung karena kandungan mineral dan garam dapat merusak perangkat mesin server.

Baca Juga: Apa Jadinya Jika MK Putuskan Diskualifikasi Gibran? Ini Kata Pakar!

Berdasarkan kajian lingkungan, setiap perintah (prompt) maupun aktivitas pembuatan konten AI membutuhkan konsumsi air bersih dalam jumlah tertentu untuk menunjang proses komputasi dan pendinginan perangkat pendukungnya.

Tekanan terhadap pasokan air ini mulai terlihat di sejumlah daerah. Menurut temuan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), pembangunan pusat data AI BDx di kawasan Waduk Jatiluhur, Jawa Barat, diproyeksikan menyedot air hingga 384 liter per detik. Jumlah tersebut setara dengan 33.000 meter kubik per hari atau 12 juta meter kubik per tahun, yang berbanding lurus dengan kebutuhan air bersih harian lebih dari 220.000 jiwa warga di Karawang.

Baca Juga: MA Kabulkan Usulan Pemakzulan Bupati Gowa Sitti Husniah, DPRD Siap Lanjutkan ke Kemendagri

Kondisi serupa terjadi di Batam. Ekspansi belasan proyek pusat data di wilayah tersebut memberikan tekanan besar terhadap ketersediaan air baku di Waduk Duriangkang dan Waduk Nongsa yang selama ini menjadi penopang utama kebutuhan ratusan ribu penduduk setempat.

Meski demikian,  bahwa keberadaan AI dan pusat data bukanlah penyebab utama tunggal dari perubahan iklim atau krisis kemarau di Indonesia. Namun, pesatnya pertumbuhan infrastruktur digital ini dinilai menambah beban signifikan pada daerah-daerah yang telah mengalami keterbatasan pasokan air bersih.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
jatiluhur batam indonesia ai air