Masjid Jami Al Ula di Kampung Baru, Balikpapan Barat, jadi saksi bisu sejarah syiar Islam di Kota Minyak.
RATUSAN warga muslim Balikpapan duduk di pelataran Masjid Jami Al Ula, Balikpapan Barat. Selasa (12/3), pada hari pertama puasa Ramadan, pukul 18.29 Wita, mereka berkumpul. Di hadapan mereka, masing-masing tersaji empat butir kurma, kue basah dan gorengan. Ditemani teh susu dan air putih, warga menyantap hidangan berbuka.
Tradisi berbuka bersama di Masjid Jami Al Ula itu sudah berlangsung ratusan tahun. Sejak masjid pertama kali didirikan. Tidak ada catatan pasti, kapan masjid pertama kali dibangun. Namun dari pengakuan pengurus, masjid itu sudah ada sejak sebelum sumur minyak Mathilda ditemukan. Itu 127 tahun lalu, tepatnya 10 Februari pada 1897.
“Awalnya bukan masjid. Hanya berupa surau. Bangunan kayu. Zaman dulu, Kampung Baru ini merupakan kampung pertama di Balikpapan. Jadi pusat singgah dan perdagangan para saudagar dari Sulawesi, Jawa, Banjarmasin, dan seberang (Penajam Paser Utara),” ungkap Sekretaris Umum Masjid Jami Al Ula Haji Aswat.
Sebagai kampung besar, Kampung Baru kala itu ramai aktivitas perdagangan. Namun, keresahan muncul dari para saudagar yang mayoritas beragama Islam. Mereka kesulitan untuk menunaikan salat lima waktu. Karena itu, setelah menggelar musyawarah dengan kepala kampung, mereka sepakat membangun surau. Menggunakan fondasi kayu ulin, dinding, dan lantainya papan. Sementara atapnya menggunakan sirap nipah.
“Posisi awal surau ada persis bersebelahan dengan jalan raya saat ini. Kemudian perkembangannya, semakin banyak masyarakat dan pedagang yang menggunakan tempat ibadah ini. Hingga pengurus melakukan renovasi. Kalau dihitung, sudah ada empat kali renovasi hingga masjid berbentuk seperti sekarang ini,” ungkap Aswat.
Masjid Jami Al Ula pun jadi saksi bisu syiar Islam. Bisa disebut, masjid itu menjadi tonggak sejarah pesatnya perkembangan Islam di Kota Minyak, sebutan Balikpapan. Termasuk ketika Belanda membawa banyak pekerja dari Tiongkok dan Jawa ke Balikpapan untuk membangun kilang minyak. Banyak pendatang yang bermukim di sekitar kawasan masjid.
“Momen paling menonjol untuk masjid ini adalah ketika perang terjadi di Balikpapan pada 1945. Ketika terjadi pemboman Jepang. Karena di atas bukit sana (Kampung Baru Ilir) dulunya tangsi militer Belanda. Bom jatuh di dekat masjid ini. Posisinya itu sekarang yang dibangun tempat wudu,” ungkapnya.
Meski dijatuhi bom, masjid selamat. Bom yang jatuh tidak meledak. Perang yang berkecamuk saat itu pun tidak banyak memengaruhi bangunan. Momen yang kemudian juga pergolakan disebut Aswat adalah ketika masa Partai Komunis Indonesia (PKI). Dirinya menuturkan, kesaksian pengurus masjid saat renovasi kedua masjid sekira tahun 1960-an. Di mana saat renovasi berlangsung, pengurus mendapat ancaman pembunuhan dari perwira militer yang diduga merupakan pro-PKI.
“Pengurus masjid kala itu mendapat ultimatum harus menyelesaikan renovasi masjid maksimal setahun. Kalau tidak semua pengurus akan dibunuh. Kesaksian ini bisa kami pertanggungjawabkan,” ujar Aswat.
Selain momen-momen pergolakan tersebut, Masjid Jami Al Ula tetap berdiri kokoh. Bahkan beberapa kali selamat dari musibah kebakaran yang kerap melanda Kampung Baru. Sayangnya, meski menjadi saksi bisu sejarah, masjid tidak meninggalkan sedikit benda-benda peninggalan.
Kata Aswat, pengurus terdahulu tidak memiliki kemampuan menyimpannya. “Jadi disayangkan tidak ada peninggalan atau benda yang tersisa. Semua termakan usia atau hilang saat renovasi berlangsung,” ungkapnya.
Namun baginya, Masjid Jami Al Ula akan terus menjadi ikon sejarah di Balikpapan. Apalagi dengan banyaknya dukungan dari masyarakat dan kalangan pengusaha khususnya di Balikpapan. Masjid tidak pernah kekurangan keuangan. Donatur selalu datang. Apalagi sejak awal berdiri, pengurus “mengharamkan” meminta sumbangan untuk operasional masjid.
“Sejak awal pengurus dilarang minta sumbangan. Tetapi alhamdulillah, donatur selalu ada. Bahkan Ramadan kali ini. Contoh kecil bila berbuka puasa. Makanan datang baik dari si kaya sampai si miskin. Semua berlomba-lomba menyumbang. Dari donatur ini pula masjid mampu memberikan zakat dan sedekah kepada masyarakat kurang mampu dan janda-janda di Kampung Baru,” ungkap Aswat.
Hal unik lain dari Masjid Jami Al Ula adalah ketika pelaksanaan salat Tarawih. Di mana salat sunah itu memiliki dua imam salat. Imam pertama yang memimpin salat Tarawih bagi jamaah yang melaksanakan salat delapan rakaat. Kemudian imam yang melanjutkan salat Tarawih hingga 20 rakaat. “Alhamdulillah proses ini sudah berlangsung sejak awal hingga kini,” ucapnya. (rom/k8)
Editor : Romdani.