Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Mengenal Masjid Jami Nurul Ibadah, Masjid Tertua di Paser Warisan Kerajaan Sadurengas

Muhammad Najib • Jumat, 28 Juni 2024 | 16:39 WIB
MASJID BERSEJARAH: Masjid Jami Nurul Ibadah di sebelah Museum Sadurengas Kecamatan Paser Belengkong adalah masjid tertua di Paser
MASJID BERSEJARAH: Masjid Jami Nurul Ibadah di sebelah Museum Sadurengas Kecamatan Paser Belengkong adalah masjid tertua di Paser

KALTIMPOST, TANA PASER - Masjid tertua di Kabupaten Paser terletak di Kecamatan Paser Belengkong. Masjid Jami Nurul Ibadah, demikian namanya, merupakan peninggalan Kerajaan atau Kesultanan Sadurengas.

Didirikan pada tahun 1851, masjid ini dibangun pada masa kepemimpinan Sultan Aji Tenggara.

Kaltim Post mencoba melaksanakan salat Jumat di masjid ini, dan suasananya terasa berbeda dengan masjid-masjid modern lainnya. Masjid ini masih digunakan sehari-hari oleh warga untuk salat lima waktu dan salat tarawih saat Ramadan.

Bangunannya terbuat dari kayu ulin dengan ornamen klasik. Tidak ada AC, hanya kipas angin yang tersedia.

Pengurus masjid, Baharuddin, menyampaikan bahwa masjid ini memiliki 12 anak tangga yang mengelilingi tiang hingga menembus plafon. Dahulu, anak tangga ini digunakan oleh muazin untuk naik ke menara masjid guna mengumandangkan azan.

"Tapi sekarang, seiring perkembangan teknologi, anak tangga tersebut tidak lagi digunakan karena sudah ada speaker atau toa," katanya pada Jumat (28/6).

Masjid Jami Nurul Ibadah telah mengalami tiga kali renovasi. Pertama pada tahun 1970-an, di mana mimbar yang sebelumnya berada di tengah masjid dipindahkan ke depan. Renovasi kedua dilakukan pada tahun 2010 dan yang terakhir pada tahun 2012.

Menurut Baharuddin, renovasi yang dilakukan tidak mengubah bentuk asli masjid, hanya mengganti beberapa bagian yang rapuh. Masjid ini berbahan dasar kayu jati. Di dalam masjid terdapat jam matahari, di mana sebatang besi menancap tepat di tengah lempengan batu marmer yang memiliki enam ruas. Konon, penentuan waktu salat dilakukan dengan melihat bayangan besi tembaga di atas marmer tersebut.

"Jika matahari tepat berada di atas batang besi tembaga dan tidak ada bayangan yang melindungi sinar matahari ke permukaan marmer, maka dipastikan itu adalah waktu salat zuhur," katanya.

Banyak wisatawan yang berkunjung ke Museum Sadurengas juga berkunjung ke masjid ini. Selain itu, lokasi masjid ini sering digunakan untuk lomba keagamaan dan lomba permainan kearifan lokal khas daerah pada hari-hari besar. (jib)

Editor : Thomas Dwi Priyandoko
#paser #masjid bersejarah #kaltim