KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Destinasi wisata di Paser kini naik daun. Bahkan mengungguli kunjungan ke Berau yang memang terkenal sebagai daerah wisata di Bumi Etam.
Lonjakan itu dijelaskan Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim Ririn Sari Dewi. Pemicunya antara lain, naiknya minat wisatawan lokal dan luar daerah. Pesona alam dan destinasi edukatif juga semakin menjadi magnet bagi wisatawan.
“Sekarang wisatawan sudah memiliki preferensi lebih luas untuk tempat wisata. Jadi cenderung ada pergerakan ke daerah-daerah termasuk ke Paser,” lanjutnya.
Pernyataan itu juga didukung oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, dimana Paser catat pertumbuhan perjalanan tertinggi hingga 64,77 persen.
Jauh mengungguli Berau yang hanya naik 43,58 persen. kegiatan-kegiatan non-pemerintah juga mulai banyak diadakan. Selain wisatawan yang memang berniat jalan-jalan, Paser juga menjadi tempat persinggahan bagi kelompok seperti komunitas dan rombongan yang dalam perjalanan ke daerah selatan.
Salah satu destinasi yang kini mengalami lonjakan pengunjung adalah Museum Sadurengas. “Wisatawan mulai menginginkan tempat yang bukan sekadar alam, tapi juga memberi nilai edukatif,” ungkap Ririn.
Kehadiran museum mengindikasikan pergeseran minat wisata. Masyarakat mulai mencari pengalaman edukasi dan budaya, selain atraksi alam. Jika dilihat pada momen liburan, yakni yang sudah terjadi sebelumnya mulai libur natal dan tahun baru, libur lebaran hingga libur sekolah. Memang terjadi peningkatan kunjungan di Paser.
“Di Paser juga ada air terjun. Ditambah lagi yang memang sudah populer yaitu Gunung Embun. Di sana sudah bagus, fasilitasi dibenahi, sudah ada paralayang. Tempat istirahatnya dibuat bagus, penataan tenda, akses jalan itu sudah bagus semua,” sambung Kepala Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Dispar Kaltim, Restiawan Baihaqi atau Eki.
Fenomena long weekend semacam “one-day tour” juga memicu banyak rombongan singgah di Paser, meski hanya untuk sehari. Dijelaskan Eki, kelompok komunitas seperti pokdarwis dan pelaku UMKM memanfaatkan momentum untuk mengenalkan produk lokal.
Dibalik geliat pariwisata itu, Eki menyebut jika faktor utamanya adalah kesadaran sumber daya manusia (SDM). Masyarakat sekitar daerah wisata, mulai menyadari bahwa ada potensi ekonomi besar.
“Masyarakat melihat peluang ekonomi dari wisata. Maka mereka dengan kesadaran masing-masing, mengembangkan ekonomi kreatif. Bekerja sama dengan pengelola (tempat wisata), memberikan pelayanan terbaik,” sambungnya.
Dikatakan jika pemerintah daerah tak tinggal diam. Memberi dukungan memperkuat fondasi agar pariwisata tidak sekadar jumlah kunjungan, tapi juga berkualitas dan berkelanjutan. Meski begitu, menurut Eki kunci penting ada di SDM. (*)
Editor : Sukri Sikki