KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Tak banyak warga Samarinda tahu bahwa kota ini pernah disapu riuh Perang Bungka-Bungka, saat perantau Bugis dan Kesultanan Kutai bahu-membahu menghadang perompak di Tepian Mahakam.
Sejarah yang nyaris terlupakan itu kini bangkit dalam drama musikal “Yabe Lale: Lullaby from the Sea” garapan Sanggar Pilar Samarinda.
Setelah hampir setahun mempersiapkan latihan akhirnya Sanggar Pilar Samarinda resmi meluncurkan poster pertunjukan drama musikal tersebut di Hotel Mesra, beberapa hari lalu. Pertunjukannya sendiri dijadwalkan pada 17–18 Oktober mendatang.
Proses persiapan drama musikal itu memakan waktu hampir setahun. Seluruh dialog diolah menjadi lagu, dengan paduan akting, vokal, dan koreografi yang dilakukan secara langsung di atas panggung.
“Kendalanya tentu menyatukan jadwal latihan, karena para aktor juga punya kesibukan masing-masing,” tegas Iwan.
Briza Meidina, aktris yang berperan sebagai Tenri, menggambarkan perannya sebagai seorang perempuan bangsawan yang jatuh cinta kepada Bala, seorang pemuda Bugis dari kasta berbeda. “Cerita itu rumit, ada konflik kasta, roman, juga sejarah. Semua diramu jadi satu,” kata Briza.
Sementara itu, Remyza Baihaqy yang memerankan Bala, menyebut dirinya berperan sebagai pasompe—perantau Bugis yang datang ke Tanah Samarenda dan terlibat konflik dengan masyarakat setempat.
“Harapannya, Yabe Lale bisa dikenal luas, tidak hanya di Samarinda, tapi juga di seluruh Kalimantan Timur,” ujarnya.
Sanggar Pilar mengandalkan promosi melalui media sosial, radio, serta dukungan para aktor yang membagikan poster resmi di akun pribadi mereka. Tiket pertunjukan akan tersedia melalui kanal resmi Sanggar Pilar di Instagram.
“Bagi kami, panggung itu juga bentuk terima kasih orang Bugis kepada Kesultanan Kutai yang dulu memberi ruang hidup bagi perantau. Cerita itu bukan hanya milik masa lalu, tapi juga warisan untuk generasi sekarang,” tegas Iwan. (*)
Editor : Dwi Restu A