Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Mangrove Sigending Makin Naik Daun: Ekowisata Berau yang Diam-Diam Jadi Incaran Wisatawan

M Hafiz Alfaruqi • Jumat, 5 Desember 2025 | 08:23 WIB

Rombongan Media Visit berhenti sejenak menikmati suasana hutan mangrove di Muara Sigending, Berau.
Rombongan Media Visit berhenti sejenak menikmati suasana hutan mangrove di Muara Sigending, Berau.

KALTIMPOST.ID, BONTANG - Kawasan pesisir Berau terus menunjukkan potensi wisatanya. Di tengah tren perjalanan berbasis alam, satu sudut daerah ini mulai menarik perhatian wisatawan.

Di Teluk Sulaiman, suasana hutan mangrove yang masih alami menjadi daya tarik sekaligus ruang belajar tentang pentingnya menjaga lingkungan. Di sinilah aktivitas masyarakat dan upaya konservasi berpadu dalam satu kawasan ekowisata.

Baca Juga: Mangrove Bontang Jadi Andalan Konservasi, Sumbang PNBP hingga Puluhan Juta per Bulan

Forum Peduli Kelestarian Alam (Forlika) bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) mengembangkan Wisata Mangrove Sigending dengan konsep pemberdayaan.

Pengelolaan dilakukan secara terbuka agar manfaat ekonomi merata dan tidak hanya berputar pada lembaga.

Ketua Forlika Teluk Sulaiman Risnu Kiay mengatakan pendekatan yang mereka bangun bukan sekadar menghadirkan destinasi wisata, tetapi juga menumbuhkan kepedulian warga terhadap lingkungan.

Semua layanan wisata—mulai dari perahu hingga jasa susur mangrove—dibersamai masyarakat setempat.

“Ketika masyarakat terlibat, rasa memiliki tumbuh, begitu pula kesadaran menjaga lingkungan. Mereka merasakan langsung manfaat dari alam yang tetap terjaga,” ujarnya.

Perjalanan susur mangrove dimulai dari dermaga menuju Muara Sigending. Sepanjang jalur air, pengunjung disuguhi pemandangan sabuk mangrove yang terjaga keasriannya.

Penyu kerap muncul di permukaan, sementara burung-burung liar terdengar jelas dari rimbunan pohon. Pada momen tertentu, bekantan pun terlihat melintas di kawasan tersebut.

Rute kemudian mengarah ke Sungai Buaya atau Saluk Buaya, yang menampilkan beragam vegetasi mangrove, terutama Rhizophora.

Jalur ini nantinya akan tersambung dengan trekking menuju Danau Telaga Biru yang kini sedang disiapkan sebagai pilihan wisata tambahan.

Salah satu titik yang paling menarik adalah Taman Mangrove, tempat tumbuhnya Bruguiera dalam jumlah besar. Formasi Bruguiera di Sigending disebut para pengamat sebagai salah satu yang unik di Kalimantan Timur.

Di bawah tegakannya, penyu sering terlihat bermain, menambah kekhasan pemandangan alam kawasan ini.

Pengelolaan ekowisata juga dipadukan dengan aturan pelestarian yang ketat. Perburuan satwa dilindungi hingga penggunaan alat tangkap destruktif dilarang demi memastikan ekosistem tetap terjaga.

Selain menjadi ruang konservasi, kawasan ini juga menjadi tempat nelayan mencari ikan saat laut sedang tidak bersahabat.

Baca Juga: Gubernur Kaltim Ingatkan Ancaman Serius Lubang Tambang, Perusahaan Wajib Bertindak

Dalam rencana pengembangannya, Forlika mendorong pemerintah kampung menyediakan fasilitas tambahan seperti perahu kaca.

Pengelolaannya tetap akan melibatkan warga agar manfaat ekonomi kembali kepada masyarakat.

“Kami ingin wisata berkembang, tetapi manfaatnya tetap jatuh ke masyarakat. Itulah inti dari pemberdayaan,” kata Risnu. (*)

Editor : Ery Supriyadi
#pokdarwis #Ekowisata Berau #Mangrove Sigending #teluk sulaiman