Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Aroonaka Lundae, Tafsir Budaya Dayak dan Satwa Kalimantan di Bali Fashion Trend 2025

Uways Alqadrie • Selasa, 23 Desember 2025 | 05:13 WIB

Model memperagakan koleksi Aroonaka Lundae karya Aemtobe by Anas Maghfur dalam ajang Bali Fashion Trend 2025 di Onyx Park Resort, Bali, 18–21 Desember 2025. (Foto Pemprov Kaltim)
Model memperagakan koleksi Aroonaka Lundae karya Aemtobe by Anas Maghfur dalam ajang Bali Fashion Trend 2025 di Onyx Park Resort, Bali, 18–21 Desember 2025. (Foto Pemprov Kaltim)
KALTIMPOST.ID, DENPASAR- Kekayaan budaya Kalimantan Timur hadir di panggung Bali Fashion Trend 2025 melalui koleksi busana bertajuk Aroonaka Lundae. Koleksi ini dipresentasikan dalam ajang yang berlangsung pada 18–21 Desember 2025 di Onyx Park Resort, Bali.

Karya tersebut merupakan hasil kolaborasi label Aemtobe by Anas Maghfur dengan Bankaltimtara. Melalui koleksi ini, Kalimantan Timur membawa narasi budaya Dayak sekaligus pesan pelestarian alam ke forum mode nasional.

Anas Maghfur mengangkat inspirasi dari budaya Dayak yang dipadukan dengan satwa endemik Kalimantan, yakni kucing merah atau marbled cat. Satwa ini dikenal sebagai spesies langka yang kini berstatus dilindungi dan terancam punah.

Nama Aroonaka Lundae diambil dari dua akar bahasa. Aroona atau Aruna dalam bahasa Sanskerta bermakna cahaya merah jingga yang melambangkan fajar, sementara Lundae atau Lunday dalam bahasa Dayak Kenyah berarti kucing. Perpaduan makna tersebut merepresentasikan semangat alam Kalimantan yang hangat, misterius, dan sarat makna ekologis.

Narasi fajar di rimba Kalimantan diterjemahkan ke dalam palet warna jingga aruna, merah hutan, hingga nuansa gelap anggrek hitam. Visual kucing merah hadir melalui reinterpretasi motif batik bergaya abstrak dan kontemporer, menjadikan busana sebagai medium cerita antara alam, budaya, dan keberlanjutan.

Motif kucing merah diekspresikan melalui pola marbled organik, goresan garis lembut, serta ritme warna yang merefleksikan cahaya pagi. Dari sisi rancangan, siluet busana menampilkan karakter maskulin modern dengan sentuhan utilitarian, potongan asimetris, dan detail layering yang mencerminkan kelincahan satwa liar di habitatnya.

Kehadiran Aroonaka Lundae memperkaya lanskap mode nasional sekaligus menjadi pernyataan identitas budaya Kalimantan Timur. Koleksi ini menegaskan bahwa wastra Nusantara memiliki daya bicara kuat di ruang global, sekaligus mampu membawa pesan pelestarian alam.

Bagi Aemtobe, busana tidak hanya diposisikan sebagai karya estetika, melainkan sebagai medium narasi hubungan manusia dengan alam. Setiap detail batik dan potongan kain menjadi dialog antara tradisi leluhur Dayak dan dinamika fesyen masa kini.

Partisipasi Kalimantan Timur dalam Bali Fashion Trend 2025 juga dibaca sebagai bentuk diplomasi budaya daerah. Dukungan Bankaltimtara memperlihatkan komitmen mendorong ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, khususnya pengembangan wastra dan fesyen daerah.

Anas Maghfur menegaskan figur kucing merah dalam koleksi ini bukan sekadar ornamen visual. Kehadirannya menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem hutan Kalimantan dan keberlanjutan satwa endemik.

Dengan menempatkan wastra Nusantara dalam konteks desain modern, Aemtobe berupaya menjembatani generasi muda dengan nilai budaya.

Aroonaka Lundae diharapkan menginspirasi lahirnya karya fesyen lain yang berpijak pada tradisi, sekaligus relevan dengan selera global dan isu keberlanjutan.

Baca Juga: Untuk Koruptor yang Belum Tertangkap! KPK Temukan Indikasi Korupsi dalam Puluhan LHKPN Sepanjang 2025

Sebagai anggota Bidang Daya Saing Produk Dekranasda Kalimantan Timur, Anas Maghfur bersama Bankaltimtara terus mendorong penguatan UMKM lokal melalui promosi, pembiayaan, dan pendampingan agar produk fesyen berbasis wastra Nusantara mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional.

 

 

Editor : Uways Alqadrie
#budaya kaltim #pemprov kaltim #budaya Dayak #endemik Kalimantan