BALIKPAPAN - Gempa bermagnitudo 2,2 yang terjadi belum lama ini berasal dari Sesar Adang. Sesar terpanjang yang membelah Pulau Kalimantan. Mulai Pontianak hingga ke pesisir timur Kabupaten Paser.
“Kejadian ini sebenarnya menjadi ancaman untuk Pulau Kalimantan,” kata Kepala Stasiun Geofisika Balikpapan Rasmid. Ratusan gempa seharusnya dapat memberi pemahaman kepada masyarakat tentang mitigasi.
“Kalimantan tidak aman terhadap gempa. Tidak baik-baik saja dibuktikan dengan penelitian kami,” sebutnya. Pihaknya mencatat selama 2-3 tahun terakhir aktivitas gempa naik secara signifikan hingga 2-3 kali lipat.
Menurutnya hal ini menjadi peringatan bagi masyarakat. “Karena sebelum gempa besar, biasanya gempa-gempa kecil dulu terjadi. Baru gempa biangnya itu keluar,” bebernya. Sehingga perlu antisipasi.
Walau secara teknologi, gempa bumi belum bisa diprediksi. Stasiun Geofisika berupaya mengantisipasi bencana susulannya. Seperti tsunami, tanah longsor dan lainnya.
“Jadi Kalimantan tidak baik-baik saja. Kalau 2025 saja sekitar 100 lebih gempa terjadi,” ucapnya. Rasmid menjelaskan, paling tinggi bermagnitudo 4,8 yang terjadi di Tarakan beberapa bulan lalu.
Padahal memiliki potensi magnitudo hingga 7,0. Kondisi magnitudo 4,8 bisa membuat goncangan sekuat itu. Berdasarkan sejarah gempa, ada potensi gempa merusak wilayah Kalimantan.
Seperti Tahun 1921 di Sangkulirang dan beberapa kali di Tarakan. Rasmid menambahkan, gempa bumi akan terus berulang. Begitu ‘stres’ sudah menumpuk, dia melepaskan guncangan.
“Kemudian ada lagi stres, lepaskan lagi, begitu terus sampai dalam bentuk besar,” ujarnya. Apalagi di Kalimantan sudah memiliki sejarah gempa yang besar sekitar magnitudo 5,6 hingga 7,0.
Itu akan berulang terjadi di masa depan. Sehingga membutuhkan mitigasi dengan edukasi kepada masyarakat. “Bahwa kita berada di daerah yang tidak aman-aman saja,” tandasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan