KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Mereka setiap hari berada di jalan, berhadapan langsung dengan masyarakat, dan kerap menjadi saksi pertama berbagai peristiwa. Dari situlah Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melihat peran penting pengemudi ojek online (ojol) dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Khusus Anak (PPPKA) Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kaltim, Junainah, menjelaskan bahwa komunitas Ojol Berlian telah lama menjadi mitra pemerintah daerah.
“Ojol Berlian (Bersama Lindungi Anak) itu adalah suatu komunitas yang sudah lama bermitra dengan pemerintah," ujarnya saat selesai acara Cegah Kekerasan Perempuan dan Anak Bersama Ojol Berlian, Senin (9/2) di Gedung Olah Bebaya Komplek Kantor Gubernur Kaltim, Samarinda.
"Di setiap tahun kami kelola mereka, kami bina mereka itu dengan berbagai tema,” kata Junainah. Utamanya adalah edukasi mengenai pencegahan kekerasan perempuan dan anak, edukasi keselamatan berkendara, hingga informasi finansial terkait kredit usaha. Pada 2025 lalu, sudah terlaksana 4 kali di Samarinda dua kali dan Balikpapan dua kali.
Menurutnya, pertemuan bersama komunitas ojol tersebut digelar setiap tahun dengan waktu yang menyesuaikan kondisi. Junainah menegaskan, ojol menjadi kelompok strategis karena aktivitas mereka yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.
“Merekalah sebenarnya yang pertama kali menemukan atau mereka harus melaporkan kepada kami apabila terjadi tindak kekerasan kepada perempuan, anak atau mungkin laki-laki atau seluruh masyarakat,” tuturnya.
Karena itu, DP3A menjadikan komunitas Ojol Berlian sebagai pelopor sekaligus pelapor. Dia menambahkan, para ojol dibekali pemahaman agar tidak takut melapor. “Jadi mereka tidak tahu takut tahu jalan, tahu mereka tempat di mana melaporkan dan kepada siapa mereka melaporkan," tegasnya.
Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Kaltim Bidang III, Arief Murdiyatno, menyebut Ojol Berlian sebagai inovasi pelayanan perlindungan perempuan dan anak. Dia menekankan bahwa perempuan dan anak merupakan kelompok rentan di ruang publik. “Ini rawan sekali untuk perempuan dan anak-anak ini terjadinya kekerasan khususnya di area-area publik,” katanya.
Melalui kolaborasi lintas sektor, Arief berharap angka kekerasan dapat ditekan. “Dengan adanya Ojol Berlian ini mudah-mudahan ke depan untuk tindak kekerasan terhadap perempuan anak lain bisa ditekan semaksimal mungkin,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, DP3A melibatkan sekitar 350 pengemudi ojol dari berbagai aplikator. Setelah pemaparan materi, kegiatan diakhiri dengan konvoi seluruh driver dari Kantor Gubernur Kaltim menuju Kantor DP3A Kaltim. (*)
Editor : Duito Susanto