KALTIMPOST.ID,KALTIM-Menjelang momentum Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dari tiga wilayah bertetangga, yaitu Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Paser, sepakat memperketat pengawasan stabilitas harga pangan.
Komitmen ini lahir dalam High Level Meeting (HLM) gabungan yang digelar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, pekan ini. Langkah antisipasi ini difokuskan pada penguatan empat pilar utama atau strategi 4K, yakni Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, serta Komunikasi yang efektif.
Aksi Cepat di PPU
Baca Juga: Anomali Pasar Kerja Kaltim, Lulusan SMK Sulit Kerja, Sektor Formal Justru Berjaya
Bupati PPU, Mudyat Noor, menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor menjadi instrumen vital dalam meredam gejolak harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Ia menyebut PPU telah bergerak sejak awal Februari dengan melakukan monitoring pasar secara terpadu serta menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di sejumlah desa seperti Karang Jinawi dan Bukit Subur.
"Memasuki periode Ramadan, TPID harus bergerak sigap. Strategi 4K adalah kunci agar inflasi di daerah tetap terkendali dan masyarakat tidak terbebani kenaikan harga," kata Bupati PPU, Mudyat Noor.
Sementara itu, dalam kesempatan sama, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, memberikan catatan khusus mengenai operasional Satuan Pangan dan Gizi Gratis dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diprediksi meningkat tahun ini. Menurutnya, perlu ada mitigasi agar permintaan bahan pangan untuk program tersebut tidak memicu kelangkaan di pasar umum.
Baca Juga: Upgrade Level! 20 Sekolah di IKN Siap Cetak Standar Baru Pendidikan
"Sinergi dengan distributor dan pemanfaatan bahan pangan lokal dalam menu MBG sangat krusial. Ini untuk memastikan lonjakan permintaan saat Ramadan tidak mengguncang stabilitas harga di tingkat konsumen," jelas Robi.
Optimalkan Neraca Pangan dan Kerjasama Antar-Daerah
Di sisi lain, Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud menyoroti pentingnya akurasi data melalui penyusunan neraca pangan. Dengan mengetahui persis kebutuhan kota dan kemampuan produksi lokal, pemerintah dapat memetakan wilayah mana yang memerlukan pasokan tambahan dari luar daerah.
Rahmad juga mendorong penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) dengan PPU dan Paser, termasuk melibatkan Perumda sebagai motor penggerak BUMD pangan. Sebagai bentuk nyata, telah dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara mitra SPPG-MBG dengan para produsen serta distributor di Balikpapan dan PPU untuk menjamin ketersediaan stok.
Baca Juga: DPRD dan Pemkab Paser Siapkan Raperda Fasilitasi Pesantren, Apa Isinya?
Paser Jadi Penyangga Unggas Regional
Kontribusi signifikan juga datang dari Kabupaten Paser. Wakil Bupati Paser, Ikhwan Antasari, memaparkan keberhasilan program "Paser BERAKSI" (BeteRnak Ayam atasi gejolaK InflaSI). Program yang menjadi percontohan nasional di bawah Danantara ini sukses meningkatkan produksi telur ayam ras secara mandiri.
"Kabupaten Paser siap menjadi penyangga pasokan unggas bagi Balikpapan dan PPU. Dengan produksi yang stabil, kami optimistis bisa menekan risiko lonjakan harga akibat tingginya permintaan pasar di bulan suci," kata Ikhwan Antasari.(*)
Editor : Hernawati