Jalur Poros Kaltim Jadi Atensi, Kelelahan dan Jarak Aman Jadi Pemicu Utama Kecelakaan

Ari Arief • Dipublikasikan Kamis, 5 Maret 2026 | 12:30 WIB

Ilustrasi mudik di Kaltim.
Ilustrasi mudik di Kaltim.

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Korps Bhayangkara resmi memetakan titik-titik krusial kerawanan kecelakaan menjelang musim mudik Lebaran 1447 H.

Berdasarkan evaluasi mendalam, rentang waktu pukul 09.00 hingga 12.00 siang menjadi periode paling "berdarah" di jalan raya. Selain faktor jam sibuk, kegagalan menjaga jarak aman dan kelelahan fisik masih menjadi momok utama pemicu insiden.

Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo membeberkan, data analisis dan evaluasi (anev) menunjukkan sebanyak 532 kecelakaan terjadi pada jendela waktu tersebut. Peningkatan volume kendaraan yang bertemu dengan aktivitas warga lokal ditengarai menjadi penyebab tingginya risiko di jam siang.

"Ada kecenderungan pengemudi memaksakan diri meski sudah lelah atau mengantuk. Ditambah lagi, rata-rata kecepatan kendaraan di jalur bebas hambatan meningkat signifikan," ujar Sigit dalam Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Operasi Ketupat 2026 di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Baca Juga: Jaga PPU Tetap Harmonis, Kapolres Gandeng GMNI, PMII, IPM, dan IPNU di Momen Ramadan

Lonjakan Kecepatan dan Jarak Aman

Salah satu sorotan tajam Kapolri adalah tren kecepatan di Tol Trans Jawa. Jika pada 2024 rata-rata kecepatan berada di angka 76 kilometer/jam, tahun lalu angkanya melesat 12,44 persen menjadi 85 kilometer/jam. Kondisi ini berbanding lurus dengan tingginya angka pelanggaran jarak aman yang mencatatkan 1.156 kasus.

Kondisi ini patut menjadi alarm bagi pemudik di Kalimantan Timur. Jika di Jawa fokus pada Tol Trans Jawa, di Kaltim perhatian tertuju pada poros utama seperti Samarinda-Bontang dan Samarinda-Balikpapan (via Tol Balsam maupun jalan poros). Kontur jalan yang berbukit dan tikungan tajam di Kaltim menuntut konsentrasi lebih, terutama pada jam-jam rawan yang disebutkan Kapolri.

Salah satu sorotan tajam Kapolri adalah tren kecepatan yang meningkat 12,44 persen dari tahun sebelumnya. Di Kaltim, kecepatan tinggi di jalan lurus yang minim penerangan atau pengaman seringkali berakhir fatal jika jarak aman diabaikan.

Baca Juga: Balikpapan, Kutim, dan Berau Jadi Prioritas Pembangunan SMA/SMK Baru di APBD Kaltim 2027

"Ini menjadi evaluasi penting untuk 2026. Sosialisasi keselamatan berkendara akan kita gencarkan lagi agar angka fatalitas bisa ditekan lebih rendah dari tahun sebelumnya," tegasnya.

Strategi Operasi Ketupat 2026

Guna mengawal tradisi tahunan ini, Polri akan menggelar Operasi Ketupat 2026 selama 13 hari, mulai 13 hingga 25 Maret 2026. Sebanyak 2.746 posko akan disebar di seluruh penjuru Tanah Air, dengan rincian 1.624 Pos Pengamanan (Pos Pam) dengan fokus pada pengaturan arus lalu lintas.

Kemudian, 779 Pos Pelayanan (Pos Yan) difungsikan sebagai rest area bagi pemudik yang lelah, dan 343 Pos Terpadu sebagai pusat kendali dan koordinasi lintas instansi.

Prediksi Dua Gelombang Puncak Mudik

Masyarakat perlu mencatat kalender mudik tahun ini. Polri memprediksi arus puncak akan terbagi dalam dua gelombang. Gelombang pertama diperkirakan pada 14–15 Maret. Gelombang kedua Berpotensi terjadi pada 18–19 Maret, menyusul adanya kebijakan Work From Anywhere (WFA) pada 16–17 Maret.

Baca Juga: Pembunuhan Sadis di Bongan Terungkap, Pelaku Diduga Rencanakan Aksi, Begini Fakta Kronologisnya

Meski angka kecelakaan pada 2025 sempat turun 31,43 persen dengan penurunan korban jiwa mencapai 53,24 persen, Polri meminta masyarakat tidak lengah. Kondisi fisik yang prima dan kedisiplinan menjaga jarak tetap menjadi kunci utama agar selamat sampai di kampung halaman. (*)

Editor : Hernawati
bontang mudik insiden kecepatan Rawan samarinda balikpapan kapolri