KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini terkait anomali cuaca tahun ini. Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan memasuki musim kemarau 2026 lebih awal dari rata-rata biasanya, dengan durasi yang diperkirakan bakal lebih panjang.
Berdasarkan analisis klimatologi terbaru, puncak musim kering ini diperkirakan jatuh pada Agustus 2026, mencakup sekitar 61,4% wilayah di Tanah Air. Namun, untuk wilayah Kalimantan bagian tengah dan utara, pergeseran cuaca ekstrem ini diprediksi mulai terasa sejak Juli 2026 mendatang.
Kondisi ini patut menjadi atensi serius, terutama bagi sektor pertanian di Kalimantan Timur. Kemarau bukan sekadar persoalan minimnya curah hujan, melainkan diikuti dengan lonjakan suhu udara, tingginya laju penguapan, serta merosotnya kelembapan tanah yang memicu kekeringan kronis.
Baca Juga: APBD Kaltim 2026 Mengetat, DPRD Beri Sinyal Bantuan Keuangan Kabupaten/Kota Bakal Dipangkas
Dampaknya terhadap tanaman sangat nyata mulai dari kerontokan bunga, ukuran buah yang mengecil, hingga terganggunya serapan hara yang berujung pada anjloknya produktivitas petani.
Momentum Persiapan di Tengah Hujan
Meski saat ini curah hujan masih tersedia, para ahli menyarankan petani untuk tidak lengah. Justru di fase inilah waktu terbaik untuk membangun "pertahanan" lahan. Melakukan persiapan saat air masih mencukupi jauh lebih efektif dibandingkan melakukan tindakan darurat ketika tanaman sudah mengalami stres akibat kekeringan.
Tanaman yang dibekali persiapan matang sejak fase awal akan memiliki sistem perakaran yang lebih kokoh dan daya tahan yang lebih stabil saat memasuki periode cekaman lingkungan.
Baca Juga: Usai Tolak Nyanyikan Lagu Kebangsaan, 5 Pesepak Bola Putri Iran Diberi Suaka di Australia
Untuk menjaga stabilitas produksi di tengah ancaman kemarau panjang, terdapat dua bahan organik krusial yang sebaiknya mulai diaplikasikan oleh para petani sejak sekarang. Mikoriza yaitu jamur menguntungkan ini bekerja sama dengan akar tanaman untuk memperluas jangkauan serapan air dan nutrisi di dalam tanah. Mikoriza bertindak sebagai "pompa biologis" yang membantu tanaman tetap terhidrasi meski lapisan atas tanah mulai mengering.
Asam Humat (Humic Acid) bahan ini berfungsi memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan kapasitas ikat air (water holding capacity). Dengan asam humat, tanah mampu menyimpan cadangan air lebih lama, sehingga kelembapan di sekitar perakaran tetap terjaga.
Dengan mengombinasikan kedua bahan ini sejak dini, diharapkan ketahanan pangan di daerah tetap terjaga meski cuaca ekstrem membayangi sepanjang tahun 2026.(*)
Editor : Dwi Puspitarini