Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

  Harga-Harga Naik, Inflasi Kaltim Capai 3,31 Persen pada Maret 2026

Raden Roro Mira Budi Asih • Kamis, 2 April 2026 | 12:55 WIB
Kelompok makanan menyumbang kenaikan inflasi tahunan pada Maret 2026. (RORO/KP)
Kelompok makanan menyumbang kenaikan inflasi tahunan pada Maret 2026. (RORO/KP)

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Laju inflasi di Kalimantan Timur masih menunjukkan tren meningkat pada Maret 2026. Kenaikan harga yang terjadi secara luas di berbagai kelompok pengeluaran mendorong inflasi tahunan tetap berada di atas tiga persen, dengan tekanan terbesar berasal dari kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Ketua Tim Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Ariyanti Cahyaningsih menjelaskan, secara tahunan (year-on-year/yoy) inflasi Kaltim pada Maret 2026 tercatat sebesar 3,31 persen. Angka itu ditandai dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 107,73 pada Maret 2025 menjadi 111,30 pada Maret 2026.

“Secara tahunan, perkembangan harga berbagai komoditas pada Maret 2026 secara umum menunjukkan adanya kenaikan,” ujarnya. Angka tersebut masih di bawah nasional yang tercatat 3,48 persen yoy. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) mencapai 1,37 persen.

Kenaikan inflasi tahunan terutama dipicu oleh naiknya sebagian besar kelompok pengeluaran. Di antaranya kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang tumbuh 3,35 persen. Disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 5,25 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak hingga 15,65 persen.

“Kelompok lain yang turut mengalami kenaikan meliputi pakaian dan alas kaki 0,57 persen, kesehatan 1,54 persen, transportasi 0,57 persen, pendidikan 2,44 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran 1,71 persen,” terangnya.

Sementara kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan serta rekreasi, olahraga, dan budaya juga mengalami kenaikan meski relatif tipis. Namun demikian, tidak semua kelompok mengalami tekanan inflasi.

Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga justru mencatat penurunan indeks 1,06 persen, sehingga menjadi satu-satunya kelompok penyumbang deflasi secara tahunan.

Baca Juga: Pemkab Kutim Percaya Diri Raih WTP Lagi Meski Pernah Catat Temuan BPK Terbanyak di Kaltim

Dari sisi kontribusi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil 1,01 persen. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 1,04 persen, serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,85 persen.

“Sebaliknya, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga memberikan andil deflasi 0,05 persen,” jelas Ariyanti.

Adapun sejumlah komoditas yang dominan mendorong inflasi antara lain emas perhiasan, tarif listrik, daging ayam ras, beras, hingga berbagai jenis ikan seperti ikan layang dan ikan tongkol. Selain itu, kenaikan juga terjadi pada tarif angkutan udara, nasi dengan lauk, sewa rumah, hingga biaya pendidikan seperti perguruan tinggi dan sekolah dasar.

Di sisi lain, beberapa komoditas tercatat menahan laju inflasi. Di antaranya sabun detergen bubuk, pengharum cucian, serta pembersih lantai yang memberikan andil deflasi.

Secara spasial, seluruh wilayah cakupan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kaltim mengalami inflasi. “Samarinda mencatat inflasi tertinggi 3,92 persen dengan IHK 111,38. Sementara inflasi terendah terjadi di Berau 2,38 persen dengan IHK 110,95,” ungkap Ariyanti. 

Wilayah lain seperti Penajam Paser Utara mencatat inflasi 3,02 persen dengan IHK 111,29, sedangkan Balikpapan 2,95 persen dengan IHK 111,33. (*)

Editor : Sukri Sikki
#tahunan #badan pusat statistik (bps) #inflasi #kalimantan timur